Kasus Covid-19 di Jogja Makin Mengkhawatirkan, Pusat Keramaian Harus Lockdown

Ilustrasi | Foto: bukalapak.com

JoSS, JOGJA – Pansus Pengawasan Pelaksanaan Penanganan Covid-19 DPRD Kota Jogja mengeluarkan draf rekomendasi pada rapat paripurna dewan. Salah satu hal yang menjadi usulan pansus adalah diterapkannya lockdown di dua lokasi, yakni Tugu Pal Putih hingga Titik Nol Kilometer.

Kebijakan itu penting dilakukan mengingat melejitnya kasus konfirmasi positif di DIY pekan lalu khususnya di Kota Jogja cukup mengkhawatirkan di tengah masa liburan.

Ketua Pansus Pengawasan Pelaksanaan Penanganan Covid-19 DPRD Kota Jogja, Antonius Fokki Ardiyanto mengaku punya dalih jelas kenapa lockdown kudu diberlakukan. Intensitas kerumunan di dua lokasi tersebut membuat pihaknya mengusulkan akan Tugu sampai Titik Nol diterapkan pembatasan jam malam.

“Seperti sudah dipahami bersama bahwa setiap tahun baru itu pusat keramaian itu ada di sepanjang Tugu dan Titik Nol. Itu kan potensi yang sangat-sangat di depan mata. Itu bisa menjadi klaster Covid-19 yang itu sangat-sangat banyak dan mungkin kalau itu terjadi maka itu akan sangat sulit di tracing,” tegas Fokki Senin (28/12/2020).

Dilansir dari Harianjogja.com, pansus merekomendasikan Tugu hingga Titik Nol diberlakukan lockdown sementara atau pembatasan jam malam agar bisa mencegah timbulnya kerumunan tahun baru.

Baca juga: Perhatian, Raja Jogja Minta Pelancong di Malioboro Wajib Rapid Test Antigen

“Maka saran atau rekomendasi secara komplit bahwa untuk tanggal 31 desember pukul 18.00 WIB sampai tanggal 1 Januari 2021 pukul 06.00 WIB pagi maka itu harus ditutup total,” tukasnya.

Dia menegaskan pertimbangan itu dua hal, itu merupakan satu potensi klaster yang sangat besar. Yang kedua yakni fasilitas kesehatan di wilayah ini sangat-sangat terbatas dan tidak siap ketika ada potensi peningkatan pasien, karena pengunjung di objek wisata itu bisa mencapai ribuan.

“Mengapa itu hanya 12 jam, soalnya yang namanya perayaan tahun baru itu hanya di titik jam itu yang krusial. Mengapa hanya lokasi itu soalnya bahwa tradisi setiap tahun baru di titik itu lah yang menjadi titik tujuan warga Jogja dan warga di luar Jogja untuk merayakan tradisi tahun baru,” jelasnya.

Fokki yakin, dengan sumber daya yang ada dari Satpol PP, Polri, dan TNI, penutupan Tugu dan Titik Nol dapat direalisasikan. “Kalau serius itu pasti bisa [direalisasikan]. Jumlah Satpol PP, jumlah yang namanya aparat polisi, jumlah yang namanya aparat militer itu kan sangat mungkin.

Sangat mungkin kalau serius betul kita dalam mencegah yang namanya terjadinya potensi klaster baru Covid-19 itu. Sampai detik ini pun, ini kan yang sudah terpapar juga semakin banyak dan fasilitas kesehatan kita sudah hampir full,” tambahnya.

Ditanya soal penutupan yang berlawanan dengan pemulihan ekonomi, Fokki kekeh jika pembatasan 12 jam dinilai lebih baik ketimbang tidak ditutup.

“Hanya satu hari, hanya 12 jam, itu saya yakin lebih baik. Kan saya yakin juga kalau hanya itu, satu hari hanya 12 jam itu tidak akan berpengaruh banyak di dalam hal yang namanya ekonomi,” tegasnya. Namun akses warga sekitar yang masuk dalam jalur penutupan tetap diutamakan. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*