
JoSS, PYONGYANG– Korea Utara mengeksekusi mati seseorang yang mencoba kabur dari karantina virus corona (Covid-19) di negara tersebut. Sebuah regu tembak dilaporkan mengeksekusi seorang berusia 50-an di depan penduduk setempat di daerah perbatasan.
Melansir The Korea Times pada Senin (7/12/2020), eksekusi ini ditafsirkan sebagai ketakutan rezim Kim Jong Un terhadap Covid-19. Meskipun berulang kali mereka mengklaim tidak ada infeksi Covid-19 atau khawatir tentang penyebaran virus di negara tersebut.
Komite Pusat dari Partai Buruh yang berkuasa meningkatkan tindakan karantina darurat menjadi tindakan karantina darurat tingkat sangat tinggi, mengutip sumber di Korea Utara.
Komite juga memberlakukan serangkaian tindakan yang lebih keras baru-baru ini, dengan ketakutan bahwa pelintas perbatasan yang sering dapat membawa virus kembali bersama mereka dari China.
Meski begitu, para penyelundup terus membawa barang-barang China ke Korea Utara. “Ada banyak kontak dengan orang-orang di seberang perbatasan, termasuk banyak penyelundupan,” kata sumber itu.
Sebuah regu tembak dilaporkan mengeksekusi seorang penyelundup berusia 50-an di depan penduduk setempat di daerah perbatasan.
Baca juga: Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip Masuk Daftar Pertama Vaksinasi Covid-19
“Eksekusi di depan umum terjadi karena korban didakwa melanggar karantina tepat sebelum tindakan darurat tingkat tinggi berlaku sekitar 20 November,” kata sumber itu, dilansir dari Bisnis.com.
Dia juga mengatakan broker pertukaran mata uang di daerah perbatasan juga dieksekusi di depan umum karena melanggar tindakan karantina.
“Pemerintahan teror bagi rakyat ini telah mencapai puncaknya sejak Komite Sentral mengeluarkan perintah karantina darurat tingkat tinggi,” tambahnya.
Pada akhir Juli lalu, Korea Utara mengumumkan keadaan daruratsetelah menemukan dugaan kuat kasus pertama virus corona. Negera yang dipimpin Kim Joung Un ini mengisolasi satu kota yang berdekatan dengan Korea Selatan.
Dikutip dari Kantor Berita KCNA, dugaan kasus pertama virus corona ini merupakan warga Korea Utara yang membelot ke Korea Selatan tiga tahun lalu, tetapi diam-diam kembali melewati garis demarkasi dan menyebrang ke kota Kaseong.
Korea Utara menyebut orang tersebut kini dikarantina secara ketat sebagai langkah utama dan semua orang di kota Kaseong yang melakukan kontak dengan orang tersebut telah dilacak dan diberikan pemeriksaan medis secara menyeluruh.
KCNA dalam laporannya mengatakan hasil tes terhadap orang tersebut masih belum pasti, meski Kim Jong Un telah mengadakan rapat darurat pada 25 Juli dan mengatakan telah menutup Kota Kaseong sejak 24 Juli.
Hal itu mendorong Kim Jong-un untuk melakukan penguncian selama tiga minggu di wilayah tersebut. Sementara di Turkmenistan, ada laporan bahwa terdapat beberapa orang yang diduga mengalami gejala virus corona dan meninggal, tetapi pemerintah memilih bungkam. (lna)

Leave a Reply