Habis KARTINI Ingatlah KARTONO (Bagian 2)

Kolase Kartini - Kartono | Foto: net/nulisbuku.com
Mas Awo

Pulang ke Tanah Air, meninggalkan gemerlap dunia internasional, memang sebuah pengorbanan yang besar. Tak lama setelah berada di Bandung, Kartono mengemban tugas sebagai Kepala Sekolah di sebuah Sekolah Menengah Taman Siswa yang ada di Bandung. Tapi anak dari Adipati Sosrodiningrat ini tidak bertahan lama di situ.

Di masa penjajahan Belanda itu, setelah pulang ke Tanah Air di tahun 1925, ternyata bukan hal yang mudah untuk dijalani. Kebangsawanannya serta pendidikan tingggi yang diperoleh, justru bertolak belakang dengan saat hidup di Eropa. Banyak petinggi pemerintah kolonial Hindia Belanda yang membencinya.

Memang, beberapa kali pemerintah Kolonial Belanda menawarinya untuk bekerja, namun tawaran itu selalu ditolak dengan alasan ingin memajukan rakyat tanpa harus meminta belas kasihan Belanda. Akibat penolakan dan alasan yang dikemukakan, pemerintah kolonial menjadi curiga dan memberi cap Kartono sebagai komunis. Karena itu gerakannya dibatasi, sehingga mencari pekerjaan pun menjadi sulit.

Kartono yang ternyata berhubungan baik dengan Keluarga Abendanon, figure yang juga dekat dengan RA Kartini, mengungkapkan perasaannya melalui surat kepada Nyonya Abendadon yang kita kenal sebagai pengumpul surat-surat Kartini. Kepada Nyonya Abendanon Kartono menulis bahwa tuduhan dia komunis adalah fitnah yang sangat keji.

“Tapi kepada Anda, nyonya yang mulia, saya bersumpah atas kubur ayah saya dan Kartini, bahwa saya sama sekali tak pernah menganut paham komunis, dulu tidak, sekarang pun tidak,” tulis Kartono, sebagaimana dikutip dari Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia karya Tunggul Tauladan.

Kartono menegaskan tekadnya apa yang dilakukannya semata-mata ingin bekerja untuk pendidikan mental sesama bangsa, sama yang dilakukan Kartini, adiknya yang wafat 1904.

Dorongan membantu sesama dan berupaya membangun pendidikan menta inilah, yang membuat dia rela memberikan waktunya kepada orang-orang yang datang untuk berguru, bahkan berobat. Perlu diketahui, masyarakat sampai antre di depan rumahnya untuk mendapatkan pengobatan dari Kartono dengan metode air putih dan doa. Bahkan ada bule yang ikut berobat, sehingga didirikannya ‘Klinik Darussalam’.

Klinik atau tepatnya rumah penyembuhan Dar-Oes-Salam, yang berarti “Tempat yang Damai”, itu berada di rumah tinggalnya di Jalan Pungkur No 7 Bandung  yang kemudian pindah ke Jalan Pungkur No 19. Karena kegiatan penyembuhannya itu pula Kartono juga diberi julukan wonderdokter, juragan dokter cai pengeran dan dokter alif. Mengenai kemampuannya dalam hal supranatural, itu diakuinya ada sejak usia tiga tahun.

Di masa awal pendudukan Jepang, kesehatan Sosrokartono mengalami kemunduran. Om Sos mengalami kelumpuhan separuh badannya. Setelah Indonesia merdeka, kondisi kesehatan Sosrokartono tak kunjung membaik. Pada tanggal 8 Februari 1952, Raden Mas Pandji Sosrokartono wafat tanpa meninggalkan istri dan anak. Kartono dimakamkan di Sedo Mukti, Desa Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah satu area dengan makam kedua orang tuanya. (Ada Lanjutannya)

Baca juga: Habis KARTINI Ingatlah KARTONO (Bagian 1)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*