
Di bulan April 2020 ini, rasanya ada sesuatu yang hilang. Di Bulan ini, tepatnya tanggal 21, kita biasa memperingati Hari Kartini, yang dalam lidah Jawa disebut sebagai “Kartinian”.
Dan, judul yang dipakai “Habis Kartini Ingatlah Kartono” bukan bercanda. Ini adalah soal serius. Jangan salah paham juga, tema ini bukan soal gender seperti ada Hari Ibu lantas ada Hari Bapak. Lanjutannya, ada Hari Kartini – yang diperingati karena perjuangan emansipasinya, lantas perlu Hari Kartono. Tidak ada pemikirian supaya ada keseimbangan Pria-Wanita..
Ya Kartono…… Nama lengkapnya adalah Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono. Bangsawan ini lahir Mayong Jepara dua tahun sebelum RA Kartini lahir di tahun 1879. Sosrokartono memang kakak kandung Raden Ajeng Kartini yang kita semua sudah pasti mengenalnya.
Sama dengan adiknya, Kartono juga cerdas dan berpengetahuan. Dia merupakan pribumi pertama yang mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi ke Sekolah Teknik Tinggi di Leiden. Karena merasa tidak cocok, pria yang oleh teman kuliahnya akrab disapa “Sos” ini memilih pindah ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur. Gelar Doctorandus in de Oostersche Talen (Drs) dari Perguruan Tinggi Leiden pun berhasil diraihnya.
Kartono oleh teman-teman gadisnya di Eropa dbiasa disapa dengan “De Mooie Sos” yang berarti Sos yang ganteng, ada pula yang menyebutnya sebagai ‘De Javanese Prins’* (Pangeran Jawa). Sementara teman-teman masa kecilnya memanggil dia Kartono.
Usai menyelesaikan pendidikan tingginya,di 1917 Kartono memulai karir sebagi wartawan di The New York Herald Tribune dan ditempatkan di Kota Wina, Austria. Karirnya cepat bersinar bukan saja karena kecerdasannya, tetapi karena dia seorang poliglot yang menguasai sekitar 27 bahasa asing, di luar bahasa Jawa dan 8 bahasa Nusantara lainnya.
Sewaktu Perang Dunia I mulai meletup, Sos ditugaskan sebagai wartawan perang. Kemahirannya dalam berbahasa membuat dia bisa menulis laporan hanya dengan 30 kata untuk 4 bahasa secara langsung. Pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat pun terkesima, sehingga memberi pangkat Mayor untuk Sosorokartono dan memberinya senjata api. Namun Kartono menolak pemakaian senjata api karena “Saya tidak menyerang orang, oleh karena itu saya pun tidak akan diserang. Jadi apa perlunya membawa senjata?”
Pengakuan media internasional kepada Kartono juga terlihat bagaimana dia mendapat gaji yang sangat tinggi, waktu itu sebesar US$ 1.250 sebagaimana termuat dalam Memoirs tulisan Muhammad Hatta. Debutnya makin bersinar saat dia berhasil memuat perundingan antara Jerman & Perancis yang rahasia serta sangat tertutup, namun Kartono bisa melaporkan liputannya disertai hasil lengkap perundingan tersebut.
Perjalanan karirnya berubah arah ketika ada tawaran menjadi penterjemah tunggal untuk Liga Bangsa-Bangsa di tahun 1919. Di lembaga yang kemudian berubah nama menjadi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) itu Kartono menjalaninya sampai tahun 1925. Gemerlapnya dunia internasional ditinggalkannya, tahun 1925 dia memilih kembali ke Tanah Air dan menetap di Bandung.
Mendengar Kartono pulang ke Tanah Air, tokoh pergerakan dan pendidikan Ki Hadjar Dewantara langsung mengangkatnya sebagai pimpinan lembaga pendidikan di Bandung… (Ada Lanjutannya)

Leave a Reply