[widget id="text-5"]

Jalan Sunyi WO Ngesti Pandawa Mas Dinar Membangun Citra Prabu Kresna Membuat Hati Penonton Wanita Sampai Rontok

Ilustrasi | Foto: tripadvisor.com
Bambang Iss Wirya

Ngesti Pandawa patut berbangga memiliki para bintang panggung yang sangat berkontribusi untuk kemajuan wayang orang selama bertahun-tahun. Selain Talok Kasinem, satu lagi pemain yang pernah dianggap ikut membesarkan Ngesti adalah Bambang Sudinar (lahir di Sala 5 Oktober 1947). Dengan fasih dan istimewanya Mas Dinar membawakan tokoh Prabu Kresna, yakni. petinggi  Pandawa yang digambarkan sebagai figur bijaksana, welas asih, ngayomi, tegas, berwajah tampan. Karakter ini ditampilkan  dengan pas oleh Bambang Sudinar.

Karena kapiawaiannya membawakan karakter Kresna maka Mas Dinar (begitu ia suka dipanggil) pun menjadi ikonnya Ngesti Pandawa. Banyak penonton rela bergeming di luar gedung (karena gedung telah penuh sesak) atau sampai rela larut malam menunggu munculnya Mas Dinar. Karena tampan, penggemarnya mambang tentu saja sangat banyak dari kalangan wanita.

Banyak wanita yang menggilainya. Bahkan ada diantara para wanita itu memberi hadiah alat-alat make up, seperti bedak atau lipstik maksudnya untuk bisa dipakai saat main wayang.

Pernah ada suatu kejadian saat pementasan berlangsung, terjadi kegaduhan di kursi penonton. Seorang penonton wanita tiba-tiba jatuh pingsan begitu Dinar tampil di atas panggung. Saat itu Dinar memerankan tokoh Prabu Kresna. Begitu sedikit besutan tari saja satu penonton menggelepar.

Ketika diusut Dinar pun tidak tahu ihwal kejadian itu. Repotnya lagi ia malah dituduh main guna-guna, yaitu menggunakan semacam aji pengasihan agar membuat penonton mabuk kepayang

Jika Bambang Sudinar dikelilingi banyak penggemar wanita hal itu bisa dimaklumi. Sebuah koran lokal (dalam kliping berita tidak tercatat nama media) mengangkatnya menjadi sebuah berita sensasional berjudul “Mas Dinar: Banyak yang Patah Hati”. Pada awalan beritanya si wartawan menulis sebagai berikut:

“Oh, mas Dinar. Sungguh mati langit dan bumi jadi saksi. Sejak pertamakali aku melihat wajahmu, sampai hari ini, jam ini, detik ini aku selalu terbayang wajahmu. Ooi, laksana madu, aku jadi tersedu-sedu. Makan tak sedap tidur tak nyenyak. Ooh, mas Dinar…. Kita-kira begitulah ratap tangis wanita-wanita yang gandrung sama Bambang Sudinar…”

Tokoh Prabu Kresna sangat identik dengan Bambang Sudinar. Betapa sulitnya memerankan Kresna yang bijaksana. Tapi sesulit apa pun bagi Dinar, Kresna adalah tokoh dhapukan harga mati untuk dirinya. Artinya di Ngesti tidak ada pemeran lain untuk Kresna selain dirinya.

Prabu Kresna adalah putra Prabu Basudewa penguasa negara Mandura. Ketika masih kecil ia dititipkan kepada Demang Sagopa dari Widarakandang. Sejak muda Prabu Kresna sering berguru pada pendeta di pegunungan, pada Suta saat Batara Wisnu menyusup ke raga Kresna, hingga ia amil sebagai raja yang bijaksana.

Sebelum menjadi pemeran tetap Kresna, Dinar mengaku banyak memainkan tokoh yang lain misalnya Somba. Sehingga Wali Kota Semarang saat itu, Iman Soeparto Tjakrajoeda sebagai penggemar Ngesti setiap menonton selalu mencari Dinar untuk memerankan Somba, sekali pun tokoh itu sudah diambil pemain lain.

Ada sesuatu yang spesifik saat Kresna dibawakan Dinar, yakni adanya sepenggal antawacana wajib diucapkan Prabu Kresna yang membuat hati penonton wanita rontok. Yaitu

“Sira kudu asung tuladha marang para kawula kang anjog marang dalaning  kautaman..” (Engkau harus  memberi teladan untuk para kerabat yang ada dijalan keutamaan hidup). Atau kalimat lain:

”Aja bunga ing keran, lan Ana susah yen ketaman.. Wus ta percaya marang paring Gusti kang makarya jagad..” (jangan gembira ketika senang dan jangan bersedih ketika kesusahan, sudahlah percaya saja pada Tuhan yang menguasai semesta).

Karena kesehatan tidak memungkinkan lagi, Bambang Sudinar sejak akhir 2015 istirahat dari kegiatan main wayang. Meski sesekali ia terlihat sering berada di balik panggung, menyaksikan para penerusnya  berkiprah.

Kini Dinar tinggal di Pedurungan yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah keluarga Cicuk Sastrosoedirdjo. Kesehariannya ia memiliki kesibukan membuat kostum wayang atas pesanan banyak orang. Kata Dinar, mumpung Tuhan masih memberinya kesehatan penglihatan mata untuk melihat dengan jelas, maka ia sekarang membikin pakaian wayang. Misalnya membuat pesanan kutang tokoh Gatutkaca yang membutuhkan kain beludru dan manik-manik berwarna keemasan.

Bambang Sudinar terjun ke dunia wayang orang karena diajak Sastro Sabdo yang saat itu melihatnya sebagai pemuda miskin anak dari pasangan petani Khoyatun – Dainem. Pak Sastro Sabdo juga yang membiaya Dinar bersekolah dari SD sampai ST (Sekolah Teknik) di Semarang. “Wes kowe dadi wayang wae” (Sudahlah kamu jadi anak wayang saja), kata Sastro Sabdo saat itu.

Maka dari Sala, Bambang Sudinar pun dibedhol (dicabut) oleh Sastro Sabdo untuk mengikuti perjalanan Ngesti Pandawa yang menetap di Semarang sejak tahun 1957. Namun baru tahun 1962 Dinar mengaku baru memari betulan dalam sesi ekstranan (tarian ekstra) pada pentas ketoprak dengan judul Rara Mendhut Pranacitra. Waktu itu kata Dinar, banyak orang terkesima melihat tariannya. Akhirnya sejak itu ia diberi peranan penting dan bukan main unthul (ikut-ikutan) lagi.

Lakon-lakon ketoprak yang menjadi favorit masyarakat dengan judul Andhe Andhe Lumut, Sam Pek Eng Tay atau yang lain dimainkan Dinar dengan bagusnya sehingga namanya menjadi makin dikenal orang. Dinar mengakui, sebagai anak panggung ia dikenal sebagai pemain yang brahi atau suka sekali berganti-ganti pakaian.

Baca juga: Jalan Sunyi WO Ngesti Pandawa dari Terkalahkan oleh “Showbiz” Masa Kini

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


[widget id="text-3"]