Tips Terhindar Dari Covid-19 (Bagian 3)

Ilustrasi | Foto: net
Mas Awo

Kehidupan keseharian kita tidak mungkin dilepaskan dari pemakaian uang sebagai alat transaksi yang sah. Meski sudah mulai banyak yang memakai e-money atau uang elektronik yang berbentuk kartu maupun dompet elektronik yang tersimpan dalam handphone, pemakaian uang kartal yang berujud uang kertas dan uang logam, masih menjadi pilihan pertama masyarakat yang melakukan transaksi.

Dalam sekapan wabah Covid-19 yang mendera sebagian besar warga bangsa, banyak yang mempertanyakan apakah uang bisa menjadi medium penyebaran virus corona yang menjadi penyebab pandemic Covid-19?

Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan agar metode pembayaran uang kertas dihindari. Ada kekhawatiran pemakaian uang kertas yang perpindahannya sangat cepat menjadi alat penularan, sehingga disarankan memakai alternatif lain sehingga transaksi tanpa harus dilakukan dengan kontak langsung sebagai upaya menurunkan risiko penularan virus.

Juru Bicara World Health Organization (WHO), Fadela Chaib, menambahkan “Anda harus mencuci tangan setelah memegang uang, terutama jika memegang atau makan makanan,” ungkapnya.”Kami tahu bahwa uang sering berpindah tangan dan ada banyak jenis bakteri serta virus yang menempel,” katanya.

Melihat fenomena itu seorang guru besar di Pusat Ilmu Kesehatan Masyarakat di Georgetown University Washington, Julie Fischer mengingatkan agar sehabis melakukan transaksi pembayaran secara tunai, disarankan untuk segera mencuci tangan sebagai langkah perlindungan. Kalau tidak memungkinkan cuci tangan, bisa dilakukan dengan memakai hand sanitizer. Juga dianjurkan tidak melakukan kegiatan lain dulu seperti minum, makan, mengetik atau mengusap mata.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, juga menyarankan agar masyarakat bertransaksi dengan menggunakan pembayaran nontunai guna mencegah penularan virus corona Covid-19 yang kian mewabah di Indonesia. Meski begitu, Perry memastikan uang tunai yang beredar di tengah masyarakat saat ini telah melalui serangkaian pengecekan dan higienis. Namun, ia mengajak warga untuk lebih sering bertransaksi secara nontunai sebagai bentuk mitigasi wabah virus corona.

“Kami memastikan uang-uang yang beredar itu higienis, karena kami memantau uang yang masuk ke perbankan. Tapi kami menghimbau penggunaan nontunai supaya bisa memitigasi Covid-19,” ujar dia

Dari China dan Korea Selatan, diperoleh kabar adanya langkah perbankan di kedua negeri itu mengambil langkah mendesinfeksi uang kertas, dan mengisolasinya sebagai langkah mengurangi penyebaran virus Covid-19. Alasan dilakukannya disinfeksi dan isolasi disebut sebaga pencegahan semata, tidak ada alasan lain yang berkait dengan persoalan moneter. Para ahli mengatakan bahwa virus bisa cepat mati atau tidak aktif jika disemprot disinfektan dan ketika berada di suhu yang lebih tinggi.

Bagaimana dengan koran atau suratkabar serta majalah yang kita kita baca? Secara teknis, mengingat uang kertas bisa menjadi medium penyebaran virus corona, tidak tertutup kemungkinan kertas yang dipakai untuk koran dan majalah juga bisa menjadi medium penyebar virus.

Memang belum ada penelitian yang pasti soal ini karena menyangkut hal yang baru. Mengacu pada publikasi The Journal of Hospital Infection pada Februari 2020 yang menganalisis 22 studi mengenai virus-virus corona sebelumnya, mungkin bisa menjadi gambaran bagaimana virus bertahan hidup pada benda atau permukaan.

Penelitian atas virus corona jenis Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), Middle East Respiratory Syndrome (MERS) coronavirus, atau endemic human coronavirus (HCoV), diketahui bahwa ada virus di kertas yang bisa bertahan sampai 5 hari. Perlu kita tunggu penelitian baru dalam kaitannya virus HCoV-2 yang menjadi penyebab Copvid-19, apakah daya hidupnya pada benda sama dengan MERS, SARS dan HCoV?

sebelum ada penelitian pasti, saat membaca surat kabar ataupun majalah kita tidak melakukannya sambil makan ataupun minum seperti kebiasaan banyak orang selama ini. Lebih aman lagi kalau setelah membaca kita mencuci tangan dengan sabun. (awo – bersambung)

Baca juga:

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*