Gegara Dicap ‘Antek Londo’ Gusti Moeng Luruskan Sejarah Kraton Mataram

Suasana diskusi budaya Peralihan Mataram Islam | Foto: Tono/joss.co.id

JoSS, SOLO – Lembaga Dewan Adat (LDA) Kraton Kasunanan Surakarta bakal meluruskan sejarah Kraton Mataram dan Kraton Kasunanan Surakarta menggunakan sumber sejarah asli seperti manuskrip dan babad Tanah Jawa, bukan referensi hasil peneliti asing.

Ketua LDA Kraton Kasunanan Surakarta Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Koes Moertiyah Wandansari usai acara diskusi budaya dengan topik “Peralihan Mataram Islam “di serambi Masjid Agung Kraton Surakarta, Sabtu (7/3) mengatakan Kraton Kasunanan Surakarta memiliki andil besar dalam sejarah perkembangan Bangsa Indonesia.

Dia menambahkan, Keraton Surakarta berdiri di belakang Republik Indonesia, membantu Republik Indonesia yang waktu itu baru berdiri baik dengan sumbangan emas, obat-obatan untuk prajurit RI yang luka bahkan dengan sumbangan senjata dan amunisinya. Namun kraton Surakarta masih dikatakan pro Belanda ( anthek e Walanda.Red)

“Saya tidak habis fikir sudah 75 tahun Indonesia, Namun kraton Surakarta masih dikatakan ‘Antek Londo’. Saat saya telusuri karena sebagian isi sejarah hanya berdasar penelitian sejarawan dari Belanda yang tentunya mereka ikut simpati pada VOC (serikat dagang milik Belanda yang ikut menjajah Indonesia),” kata wanita yang kerap disapa Gusti Moeng ini, Sabtu (7/3).

Dalam diskusi yang diselenggarakan atas kerja sama Yayasan Forum Budaya Mataram (YFBM) dengan Dinas Pendidikan Wilayah VII Propinsi Jawa Tengah itu, hadir sebagai narasumber Chatarina Ety yakni Ketua sejarawan Yogyakarta, yang  mengupas tentang Perjanjian Giyanti Perlambang Kekalahan Peradaban Jawa Melawan- Pendudukan Asing.

Baca juga: 3.132 Naskah Kuno Perpustakaan Rekso Pustoko Mangkunegaran Berhasil Didigitalisasi

Selain itu Lilik Suharmaji kandidat doktor sejarah UIN Sunan Kalijaga menyoroti masalah “Disintegrasi Mataram”. Sedang nara sumber lainnya Sutanto ( Ketua jurusan Sejarah FIB UNS ) membahas “Terbunuhnya Kapten Tack, Kegagalan VOC memahami Mataram”.

Gusti Moeng mengaku dasar disiplin ilmunya adalah sastra Jawa yang akrab dengan manuskrip dan cerita babad yang merupakan sumber referensi otentik untuk belajar sejarah kerajaan di Jawa khususnya.

“Misal Babad Tanah Jawa yang kebanyakan berisi tembang beraksara Jawa, namun malahan tidak menjadi acuan utama untuk mempelajari sejarah kraton di Jawa seperti kerajaan Mataram. Sebagian ahli sejarah malah menggunakan referensi peneliti Belanda yang saya ragukan obyektifitasnya,” papar Gusti Moeng.

Untuk meluruskan sejarah terutama Kerajaan Mataram dan Kraton Kasunanan Surakarta, pihak Lembaga Dewan Adat Kraton Surakarta bekerja sama dengan tim ahli sejarah bakal meluruskan sejarah kraton di Jawa dengan menggunakan sumber referensi utama manuskrip, cerita babad. Sementara sumber peneliti asing hanya sebagai sumber sekunder.

Dicontohkannya dalam ulasan Perjanjian Giyanti, peneliti asing terkesan yang dominan bisa memenangkan diplomasi adalah VOC dalam palihan nagari Mataram Islam. “Padahal dalam sumber manuskrip Perjanjian Giyanti yang ditanda tangani di dukuh Kerten, Desa Jantiharjo sekarang masuk Kabupaten Karanganyar, itu merupakan perjanjian damai antara Raja Kraton Kasunanan Surakarta, Paku Buwono III dengan saudaranya sendiri Mangkubumi yang akhirnya bergelar Sultan Hamengku Buwono I,” ujarnya memberi contoh persepsi peneliti asing yang kurang obyektif. (ton/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*