
JoSS, SEMARANG – Progres Pembangunan Jateng Park yang kini bernama Jateng Valley kini memasuki babak baru. Proyek hutan wisata di Penggaron, Semarang yang digagas sejak era Gubernur Bibit Waluyo, dan telah rampung desainnya pada 2010 itu segera dibangun pada pertengahan Agustus 2020.
Penandatanganan Perjanjian Kerjasama (PKS) pengembangan wana wisata Penggaron antara Perum Perhutani dengan PT Penggaron Sarana Semesta dan PT Taman Wisaya Jateng dengan PT Penggaron Sarana Semesta telah dilaksanakan Kamis (12/3).
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyatakan, grounbreaking pembangunan akan dilakukan pada 15 Agustus 2020 mendatang. Atas kejelasan itu, Ganjar pun menyampaikan apresiasinya kepada Dirut PT Perhutani Wahyu Kuncoro yang menjabat baru dua minggu.
“Pak Wahyu datang merespons dengan baik, bertemu investor dan kita akan gas pol. Konsepnya, desainnya futuristik, karena mengawinkan konsep alam dan teknologi menjadi satu. Sehingga, edukasinya ada, green ekosistemnya juga ada,” kata Ganjar, seperti dikutip dari Bisnis.com.
Baca juga: Kabar Gembira, Pengembalian Kredit UMKM Bakal Dilonggarkan
Jateng Valley kata Ganjar, akan menjadi wisata alternatif yang menjanjikan. Karena dengan nilai investasi sebesar Rp 1 triliun dengan konsesi selama 35 tahun itu, Jateng akan terus berkembang.
Berdasarkan master plan yang telah disusun, rencana Jateng Park akan dibuat dengan tujuh zona, yakni Plaza Park, Theme Park, Water Park, Cultural Park, Eco Safari, Eco Lodge, Retention Lake, restoran dan suvenir.
“Saya berharap kualitasnya tinggi dan bagus, pada proses pembangunannya tidak korup, tidak ada biaya ekstra. Kalo Pak Ganjar minta, laporkan saya ke KPK dan viralkan, kalau ada pegawai yang minta, laporkan ke saya. Kemudian, desain final akan saya sampaikan ke Pak Presiden. Pak Jokowi khan cita-citanya bukan presiden, tapi jadi pegawai perhutani,” katanya.
Dalam perencanaannya, Jateng Park didesain sebagai wisata alam dan mini zoo terbesar di Asia Tenggara. Proyek yang berada di sisi timur Jalan Tol ruas Semarang – Ungaran sudah didesain sejak akhir 2010. Saat itu, lahan tersedia 500 hektar dengan nilai investasi awal Rp 90 miliar.
Dalam perkembangannya, karena pihak investor dinilai tidak serius dan perencanaan dalam desain Jateng Park hanya merupakan lokasi outbound serta sarana wisata hutan tidak prospektif, Perhutani akhirnya membatalkan kerja sama itu sejak akhir 2011. (lna)

Leave a Reply