Layaknya Kain, Ular Piton di Sragen Dijual Per Meter

Ilustrasi | Foto: net

JoSS, SRAGEN – Sungai Garuda yang berada di Kawasan Karangmalang, Sragen diyakini menjadi habitat ular piton. Warga kerap menangkap ular piton dari sungai tersebut, mereka menjualnya per meter seharga Rp40.000.

Seorang warga Karangmalang, Suparlan mengaku menangkap ular piton pada akhir Desember 2019. Tangkapannya itu lalu laku dijual seharga Rp160.000 lantaran dihitung harga per meter Rp40.000. Lalu pada Sabtu (15/2), Suparlan kembali menangkap ular piton di Dam Plumbungan, Sungai Garuda.

Penangkapan ini dilakukannya setelah ada informasi warga sekitar yang melihat ular berukuran besar di sungai. Lalu mereka memanggil Suparlan.

“Ekor ular itu saya tarik dan langsung ditangkap. Kalau satu orang tenaganya cukup besar. Kalau dua orang lebih ringan. Diameternya sekitar 15 cm dan beratnya sekitar 30 kg.

Sebelumnya Beni pernah menangkap dengan ukuran yang hampir sama pada Desember 2019 lalu. Kalau yang dulu itu mungkin yang betina,” kata Suparlan, seperti dikutip dari Solopos, belum lama ini.

Suparlan mengaku untuk hasil tangkapan kali ini akan dijual kiloan. Dia mendapat informasi bila ada pedagang yang mau membeli ular dengan harga Rp60.000/kg.

Baca juga: Pemerintah Larang Impor Hewan Hidup Dari China, Ular dan Kura-Kura Mendominasi

Sejak pembangunan Jembatan Kuning Mageru pada 2016, temuan piton kali ini sudah kali ketujuh. Sebelumnya warga Mageru, Darso, juga menemukan ular piton sepanjang 3 meter.

Anggota Komunitas Reptil Exalos Indonesia Regional Sragen, Rifqi Adhe Kurniawan, menyebut habitat piton memang di daerah yang dekat dengan sumber air. Dia berasumsi Sungai Garuda menjadi habitat piton karena banyak penemuan ular berukuran besar di perairan itu.

Sarang piton biasanya berada di rumpun bambu atau semak liar di dekat Sungai Garuda. Rumpun bambu biasanya menjadi tempat persinggahan piton.

“Banyaknya rumpun bambu itu sering digunakan piton untuk berkamuflase saat mau berjemur. Tetapi tidak menutup kemungkinan rumpun bambu itu jadi persinggahan piton,” katanya.

Rifqi Ade mengatakan, piton berkembang biak dua kali dalam setahun. Musim kawin piton terjadi antara September-Maret dan masa mengerami telurnya kurang lebih 100 hari.

Piton bisa bertelur banyak atau sedikit itu tergantung ukuran induknya. Rifqi Ade menyebut untuk piton dengan panjang empat meter itu bisa bertelur 28-35 butir.

“Namun yang kemungkinan bisa menetas sekitar 40% karena ada banyak predator juga di sungai. Piton itu berbahaya pada gigitan dan lilitan meskipun bukan ular berbisa,” ujarnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*