AS Masukan Indonesia Sebagai Negara Maju: Catatan Mas Awo (2)

Ilustrasi | Foto: jurnalislam
Mas Awo

PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, meski memimpin negara super power juga manusia. Ada hati, ada emosi dan bisa juga bersikap pilih kasih terhadap mitranya. Pilih kasih dalam ungkapan Jawa sering disebut sebagai “emban cinde emban siladan”  yang artinya satu digendong dengan selendang, yang satunya lagi digendong dengan rautan buluh bambu.

Ya, bisa saja sosok yang jambulnya gampang goyang tertiup angin ini bersikap sebagai pemimpin yang membeda-bedakan negara mitranya dalam berdagang. Selama ini AS tidak pernah mengotak-atik soal fasilitas perdagangan dan status negara mitra. Di tangan Trump semua negara diperlakukan menjadi musuh dalam perang dagang yang berkobar belakangan ini.

Memang sebagian besar negara yang dinaikan status menjadi negara maju versi AS, kebajakan memiliki posisi surplus dalam perdagangan dengan AS. Menurut  Ekonom Institute for Development of Economics & Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, porsi ekspor Indonesia ke AS antara 10% sampai 12%, sementara ke China sekitar 15%, dari total keseluruhan ekspor. Sebagai gambaran, di tahun 2016 dan 2017 n neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat mengalami surplus US$ 8,47 miliar dan US$ 9,44 miliar.

Sedang produk ekspor Indonesia yang menonjol adalah pakaian dan aksesori pakaian, bukan rajutan atau kaitan yang di tahun 2017 nilainya mencapai US$ 2,12 miliar; kemudian pakaian dan aksesori pakaian, rajutan atau kaitan yang di tahun 2017 nilainya US$ 1.99 miliar; kemudian karet dan barang turunannya dan pada 2017 nilainya US$ 1,83 miliar; lantas produk ikan dan krustasea, moluska serta invertebrata air lainnya yang di tahun 2017 nilainya uS$ 1,39 miliar; serta alas kaki, pelindung kaki, dan barang sejenis yang di tahun 2017 nilainya mencapai US$ 1,33 miliar. Istilahnya, ekspor ke AS masih didominasi tekstil dan produk tekstil (TPT). Karena itu, terbayang bagaimana industry tekstil dan produk tekstil kita yang menyerap jutaan tenaga kerja, di masa mendatang jika pemerintah tidak mengambil sikap yang tepat.

Akan halnya sikap pilih kasih AS, sebenarnya bisa dilihat dari daftar negara yang masih dianggap berkembang oleh Amerika Serikat. Dari 29 negara yang masuk daftar berkembang misalnya, masih tercatat negara yang kita anggap besar dan berkemampuan seperti Mesir, Yordaniua, Vnezuela dan Filipina. (Daftar negara berkembang versi AS, selengkapnya lihat tabel)

Negara-negara tersebut, setidaknya masih setara dengan Vietnam dan mungkin Indonesia juga.Kalau China, Thailand dan Singapura serta Malaysia, mungkin sudah pantas tidak mendapatkan fasilitas karena pendapatan per kapita mereka sudah jauh di atas Indoneia.  Tapi kenapa negara seperti Mesir, Yordania, Venezuela dan Filipina masih diberi fasilitas perdagangan? Terkesan ada sikap pilih kasih dari AS.

Menanggapi hal itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bea perdagangan internasional akan dibicarakan kedua negara, Indonesia dan AS. “Kalau biaya ekspor impor ada nanti perjanjian yang sedang diproses. Itu bisa diselesaikan bilateral. Kita optimis. Kita punya GSP hanya 20%,” kata Airlangga yang juga Ketua Umum Partai Golkar, Senin (24/2/2020).

Menko Perekonomian mengaku tidak khawatir produk Indonesia menjadi mahal karena memiliki daya saing.  Menurut dia, produk kita masih memiliki daya saing yang kuat untuk masuk pasar AS. (bersambung)

Baca juga: AS Masukan Indonesia Sebagai Negara Maju: Catatan Mas Awo (1)

Negara Berkembang Versi AS

[table id=12 /]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*