JoSS, SEMARANG – Bangunan bersejarah garapan arsitek Belanda Thomas Karsten, Pasar Johar Semarang telah rampung diperbaiki pascakebakaran hebat yang melanda sebagian besar bangunan itu pada 2015 lalu.
Hari ini, Selasa (30/12) pasar bersejarah kebanggaan warga Semarang itu dikunjungi Presiden Jokowi sebagai simbol dimulainya babak baru bangunan bersejarah tersebut.
Sejarawan Kota Semarang Jongkie Tio mencatat, pasar yang semula dari kumpulan pedagang di bawah pohon, pasar itu konon pernah jadi yang terbesar di Asia Tenggara.
Dibangun oleh arsitek ahli bernama Ir Thomas Karsten. Bangunan tersebut dibangun untuk menampung para pedagang yang berjualan di bawah Pohon Djohar yang ada di sekitar Alun-alun sejak 1865.
Dalam buku berjudul Kota Semarang Dalam Kenangan disebutkan tahun 1920 Pemerintah Belanda membangun los pedagang di sana dan kemudian dibangun Pasar Johar bertingkat dua oleh Karsten dan diresmikan 9 Juni 1939.
“Pasar (los) itu diperluas lagi dengan bangunan permanen bertingkat dua yang dikerjakan Ir. Thomas Karsten, selesai tahun 1939,” tulis Jongkie Tio sebagaimana dirangkum Detik.com.
Baca juga: Penerbitan Paspor Elektronik Kini Bisa Dilayani di Jogja Solo Dan Semarang
Pasar Johar menjadi pendukung pasar kecil di sekitarnya yaitu Pasar Pedamaran yang menjual bahan membatik. Namun pasar itu makin lama makin padat dengan berbagai jenis dagangan hingga merembet hingga alun-alun diputuskan dibangun Pasar Johar.
Arsitek dan tim ahli cagar budaya, Widya Wijayanti pasca kebakaran Pasar Johar tahun 2015 lalu menyebut bangunan itu merupakan masterpiece Karsten karena didesain dan dibangun dengan teliti. Karsten bahkan menyematkan desain khas bernama Cendawan, yaitu pilar yang menopang atap Pasar Johar berbentuk jamur atau payung.
“Jadi Karsten itu mendesain tidak asal desain, mikir dia. Dia studi binatang sehingga tidak ada burung yang bersarang, sehingga dibuat atapnya halus dan rata,” kata Widya saat itu.
Struktur cendawan dan peninggian atap di Pasar Johar tidak hanya didesain Karsten untuk mempercantik tampilan pasar. Pilar yang menjulang tinggi hingga atap dimaksudkan untuk memberi ruang sirkulasi udara yang luas, bahkan lantai dua pasar sengaja berada di bagian pinggir saja.
Sedangkan peninggian atap, dimaksudkan sebagai masuknya cahaya matahari dari sela-sela atap. Selain itu pemilihan kualitas beton juga dipertimbangkan Karsten untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran.
Dari penelitian yang dilakukan tim dari Unika tahun 2006, mutu beton adalah K400 atau berkekuatan tekan 400kg/m2, sedangkan bangunan-bangunan baru sekarang tidak ada yang menggunakan beton sekuat itu.
“Memang itu untuk antisipasi kebakaran. Beton melindungi pemuaian besi saat terbakar. Sebenarnya Johar ideal sekali, karena interiornya terbuka, ada jalan untuk keluar api, hanya saja pemanfaatannya kurang baik,” terang mantan dosen Arsitek Undip itu. (lna)

Leave a Reply