Menkes Terawan Bakal Populerkan Wisata Kebugaran, Kerokan dan Pijit Jualannya

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusbandio | Foto: kemkes.go.id

JoSS, JAKARTA – Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan bekerjasama dalam mengembangkan Wisata Kesehatan atau kebugaran menyusul potensi bisnis di kedua sektor tersebut.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyatakan pariwisata kesehatan khususnya kebugaran dipercaya memiliki prospek yang berkembang pesat di masa depan, hal itu dilihat dari adanya perkembangan perjalanan wisata dengan tujuan wisata medis.

Untuk itu, pihaknya akan memprioritaskan pengembangan wisata kebugaran dan jamu karena dinilai memiliki prospek kesehatan, budaya, dan ekonomi yang tinggi.

“Kalau wisata kebugaran dan jamu inilah yang harus kita masyarakat terus. Kita punya industri jamu yang hebat-hebat tapi nggak pernah kita munculkan. Contohnya mau tongkat ali, purwaceng, mau Mak Erot, di situ kita kemas dengan baik, wisatawan pasti datang,” kata Menkes, belum lama ini.

Menkes menyebut jika ingin mengundang wisatawan asing, suguhkan hal yang baru dan menggelitik. Ia meyakini masyarakat Indonesia punya ide cemerlang juga inovasi yang baik untuk menjual sesuatu.

“Kalau yang lain menjual seperti bekam dan sebagainya, kita jual kerokan. Jangan sepelekan kerokan kalau 100 kamar dan hanya 20 menit berapa? Begitu keluar minumnya jamu, bisa berapa. Belum tambah pijet. Itu hal yang kadang tidak kita komunikasikan,” tambahnya.

Baca juga: Cuaca Makin Panas, Simak Tips dari Kemenkes Ini

Dikutip dari Detikhealth.com, ada 4 peta jalan wisata kesehatan yang ditawarkan oleh Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Pariwisata dan Badan Ekonomi Kreatif. Di antaranya wisata medis, wisata kebugaran dan jamu, wisata olahraga mendukung kesehatan dan wisata ilmiah kesehatan.

Bagi masyarakat Indonesia, kerokan sebagai terapi tradisional masih banyak diandalkan untuk mengatasi berbagai macam penyakit seperti mual, kembung, batuk pilek dan gejala masuk angin lainnya. Apalagi jelang musim penghujan seperti sekarang ini.

Mengomentari tren kerokan di musim hujan, Ketua Ketua Indonesia Influenza Foundation (IIF), Prof dr Cissy B Kartasasmita, SpA(K), MSc, PhD, menjelaskan teori di balik terapi murah meriah ini. Menurutnya, kerokan bisa saja melancarkan peredaran darah.

“Jadi punggung yang sakit karena penimbunan asam laktat bisa diatasi dengan kerokan,” kata Prof Cissy.

Namun jika disebut bisa mengatasi flu, Prof Cissy mengaku tidak yakin. Ia berpesan, kalaupun memang ingin mencoba kerokan sebaiknya menggunakan alat kerok khusus agar tidak terasa sakit di punggung. “Kalau koin juga sakit yah kalo itu,” kata Prof Cissy. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*