Menhub Bakal Batasi Jumlah Pengemudi Ojol, Ini Alasannya

Ilustrasi | Foto: liputan6.com

JoSS, JAKARTA – Kementerian Perhubungan akan membatasi jumlah pengemudi ojek daring mengingat maraknya aplikator baru yang menjadi penantang dua raksasa Gojek dan Grab. Kondisi tersebut akan mendorong penambahan jumlah pengemudi ojol yang makin membeludak.

Hingga saat ini tidak diketahui secara pasti jumlah pengemudi ojek online, bahkan asosiasi pengemudi ojol pun tidak memiliki data atau catatan dipegang oleh mereka terkait jumlah pasti mitra pengemudi

Dikutip dari Bisnis.com, Gabungan Aksi Roda Dua Indonesia menyatakan jumlah pasti mitra pengemudi ojol di Indonesia sampai kini tidak diketahui secara pasti baik oleh publik maupun pemerintah.

Presidium Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Indonesia Igun Wicaksono menuturkan jumlah pengemudi ini disembunyikan oleh para aplikator.

Menurutnya, perusahaan aplikator juga tidak mau membuka data jumlah tersebut. Igun memproyeksikan jumlah pengemudi ojek daring sekitar 2,5 juta orang. Adapun, simpatisan Garda mencapai 200.000 mitra ojek daring di seluruh Indonesia.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menuturkan pihaknya akan kembali melakukan koordinasi dengan para aplikator Gojek dan Grab untuk membatasi pertumbuhan pengemudi terutama pengemudi ojek daring atau sering disebut ojol.

Baca juga: Taksi Online Dilarang Jemput Penumpang Di YIA, Ini Alasannya

“Keseimbangan juga penting kalau melebihi berakibat mengganggu lalu lintas dan mengurangi pendapatan para penarik ojol. Jadi, saya sampaikan untuk kurangi penambahan,” katanya, Selasa (12/11).

Menhub mengaku sudah menginstruksikan jajarannya membangun tempat pemberhentian dikerjasamakan dengan perusahaan aplikator khususnya untuk wilayah DKI Jakarta menggandeng Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Budi Karya mencontohkan aktivitas ojol di daerah Palmerah, Jakarta Selatan perlu ditata dalam menaikan penumpang agar tidak menyebabkan kemacetan. “Saya minta bagaimana ambil penumpang dimana menunggu, mangkal musti diawasi,” tuturnya.

Sebelumnya, kompetisi transportasi dalam jaringan semakin ketat dengan kedatangan berbagai pemain baru di sektor ini, seleksi alam akan menjadi sesuatu yang tak dapat dihindarkan.

Setidaknya terdapat lebih dari 20 aplikasi transportasi daring selain Gojek Indonesia dan Grab Indonesia yang menjadi dua raksasa dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia.

Jumlah tersebut mencakup transportasi daring yang berbasis daerah seperti Gorontalo Jek, Ko-Jek (Kalimantan), Si-Jek (Situbondo), Pas-Jek (Kota Sampit), dan Greenjek (Karawang). (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*