Reaktivasi Jalur Kerata Gamping Sleman-Borobudur Dimulai Awal 2020

Ilustrasi | Foto: google

JoSS, JOGJA – Reaktivasi jalur kereta api yang menghubungkan Jawa Tengah dan Yogyakarta (Gamping Sleman- Borobudur) bakal dilakukan mulai 2020 mendatang. Saat ini rencana tersebut masih tahap Detail Engineering Design (DED). Sedikitnya 9 desa akan dilewati jalur tersebut.

Kabid Sarana Prasarana Dishub Sleman Jenu Santoso mengatakan panjang jalur kereta yang diaktivasi akan mencapai panjang sekitar 40 km. “Jalur kereta dimulai dari Stasiun Patukan, Gamping hingga Candi Borobudur,” katanya, belum lama ini.

Secara administratif, akan ada 9 desa di 6 kecamatan yang akan dilewati oleh jalur kereta tersebut. 9 desa tersebut adalah Ambarketawang (Gamping), Sidokarto (Godean), Margoluwih (Seyegan), Tirtonadi (Sleman), serta Margorejo dan Lumbungrejo di Tempel.

“Warga sudah mendapat sosialisasi sejak Agustus lalu. Saat itu yang hadir adalah para kepala desa,” jelas Jenu.

Reaktivasi jalur yang masuk dalam proyek nasional tersebut akan dibangun dengan konsep atgrade alias sejajar dengan tanah untuk menghemat biaya. Selain itu juga tidak perlu lagi pengadaan lahan, karena cukup menertibkan saja.

“Kalau reaktivasi jalur rel yang sudah ada, cukup penertiban bukan penggusuran. Pemda harus bantu untuk menyelamatkan warganya agar mendapat tempat tinggal yang baru,” katanya.

Baca juga: Reaktivasi Jalur Rel Pantura Segera Direalisasikan, Biayanya Capai Rp60 Triliun

Keberadaan jalur kereta itu dinilai mendukung tersedianya alternatif moda transportasi umum bagi masyarakat. Apalagi jika nantinya ada jalur kereta MRT di Jogja, maka pengurangan kemacetan karena penggunaan mobil pribadi akan lebih optimal.  “Jalur kereta ini juga sejalan dengan visi Pemkab Sleman terkait pariwisata terkemuka di 2025,” kata Jenu.

Namun untuk MRT, jalurnya yang paling ideal menurutnya adalah elevated (melayang) tetapi harus memperhatikan kearifan lokal. Dia mengatakan, jika mau serius dibangun, segera dibuat Feasibility Studi (FS), Kajian trase dan kemudian berlanjut dengan DED.

Sementara, jalur untuk MRT ini akan lebih murah dibangun elevated dan disesuaikan dengan median-median jalannya.

Wakil Ketua DPRD DIY, Huda Tri Yudiana menjelaskan, kampanye penggunaan transportasi publik sangat penting bagi warga DIY. Hal ini karena dengan transportasi publik ini, Yogyakarta tidak akan macet dari segi lalu lintasnya.

“Kami mendukung untuk rencana pembangunan MRT dan juga kereta api di DIY. Ini sangat mendukung untuk mengurangi kemacetan di Yogya, jangan sampai seperti Jakarta,” ujarnya, seperti dikutip dari Joglosemar.com.

Huda menambahkan, untuk MRT dan kereta api ini sudah ada kajian dan implementasinya nantinya disesuaikan dengan hasil kajian tersebut. Pihaknya mendorong agar kehadiran transportasi publik ini juga diikuti dengan penurunan penggunaan kendaraan pribadi di masyarakat. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*