Belum Ada Peraturan Menteri Terkait Wisata Halal, Asita Gunakan Acuan Global Muslim Travel Index

Ilustrasi | Foto: google

JoSS, SOLO – Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) menyatakan perlu ada peraturan menteri (Permen) tentang wisata halal sebagai dasar pengembangan sektor ekonomi tersebut. Saat ini pelaku pariwisata menggunakan Global Muslim Travel Index sebagai acuan standarisasi pelayanan.

Wakil Ketua Asita Jawa Tengah Daryono mengatakan Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk mengoptimalkan ceruk bisnis di industri wisata berbasis syariah. Namun sampai saat ini belum ada petunjuk teknis untuk pengembangan wisata halal tersebut.

Ia mengatakan karena belum ada aturan tersebut, selama ini pelaku wisata hanya menggunakan panduan dari Global Muslim Travel Index dalam menjalankan wisata halal di dalam negeri.

“Panduan ini sangat penting dalam melaksanakan wisata halal, karena berhubungan dengan standardisasi pelayanan dan fasilitas. Apa saja yang harus diperhatikan dan dipenuhi agar wisata ini sesuai konsep halal yang ditawarkan,” katanya, seperti dikutip dari Antara.

Ia mencontohkan salah satu yang perlu diperhatikan adalah perlu adanya Masjid untuk destinasi halal. “Keberadaan Masjid ini harus di lokasi strategis yang mudah dijangkau. Baik itu di hotel maupun di destinasi wisatanya,” katanya.

Selain itu, yang perlu diperhatikan pada wisata halal adalah pemisahan gender. Menurut dia, restoran atau tempat makan yang mengusung konsep wisata halal menekankan pemisahan tempat makan antara pria dan wanita.

Baca juga: Dusun Pulesari Sleman Bakal Jadi Desa Wisata Halal, Ini Yang Ditawarkan

“Selain itu tentunya konsep hotel syariah. Selama ini di beberapa kota sudah memiliki hotel syariah, termasuk di Solo,” katanya.

Ia berharap keberadaan Permen nantinya bisa mengatur panduan tersebut. Dengan demikian, ada keseragaman pelaksanaan di setiap daerah.

Dia menilai kawasan Soloraya cocok dikembangkan sebagai objek pariwisata halal karena potensi alamnya. “Selama ini wisata halal banyak mengeksplorasi wisata alam, ini banyak terdapat di Soloraya,”  tuturnya.

Ia mencontohkan wisatawan asing dari Arab Saudi lebih menyukai wisata alam dataran tinggi. Menurut dia, wisatawan asal Timur Tengah lebih menyukai dataran tinggi karena cuacanya yang dingin.

“Mereka kan berasal dari kawasan panas, jadi ketika ada tempat yang dingin mereka ingin mengeksplorasi itu,” katanya.

Ia mengatakan beberapa objek wisata di Soloraya yang menyediakan wisata dataran tinggi di antaranya Kabupaten Boyolali dan Karanganyar. “Kalau secara nasional, Bogor menjadi lokasi yang cocok untuk dijual sebagai wisata halal,” katanya.

Selain daerah dataran tinggi, dikatakannya, yang banyak menarik dieksplorasi untuk wisata halal yaitu wisata belanja. Menurut dia, objek wisata dalam Kota Solo yang layak ditawarkan di antaranya Laweyan dan Kauman.

“Wisatawan halal cenderung ‘long term’ (waktu lama) dan banyak menghabiskan uang. Mereka senang berbelanja,” katanya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*