PLTU Jawa 7 Berkapasitas 1.000 MW Bakal Beroperasi Komersial Oktober Mendatang

Pembangkit listrik tenaga uap | Foto: google

JoSS, JAKARTA – PT PLN (Persero) menjadwalkan commercial operation date (COD) pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Jawa 7 unit 1 berkapasitas 1.000 megawatt (MW) pada awal Oktober 2019. Meski demikian masih perlu melakukan pengujian load rejection test (LRT) sebagai persiapan melakukan langkah tersebut.

Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Barat PT PLN (Persero) Haryanto W.S. belum bisa memastikan kapan tepatnya pembangkit tersebut beroperasi. Hingga saat ini, PLN masih fokus menyelesaikan serangkaian tahap pengujian.

Pembangkit yang merupakan bagian dari megaproyek 35.000 MW dan digadang-gadang akan memperkuat sistem kelistrikan Jawa bagian barat tersebut telah berhasil melakukan first sinkron pada Senin (9/9).

“Kita sudah melakukan first sinkron, kemudian shutdown. Kita cek sana-sini untuk pengujian 25 persen, 50 persen, dan 75 persen,” katanya, Jumat (20/9) seperti dikutip dari Kabar24.com.

Selama masa pengujian, PLN mengaku tidak ditemukan kendala sehingga optimistis COD mampu dilakukan pada awal Oktober 2019. Untuk memastikan semuanya berjalan lancar, PLN masih perlu melihat dan mengevaluasi hasil pengujian.

“So far tidak ada [kendala], berjalan sesuai rencana,” katanya.

Nilai investasi PLTU Jawa 7 berkapasitas 2×1.000 MW mencapai Rp26 triliun dengan target beroperasi unit I pada Oktober 2019 dan unit II pada Februari 2020.

PLTU Jawa 7 akan menjadi PLTU Batubara terbesar dan pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi boiler ultra supercritical (USC). PLTU tersebut menggunakan bahan bakar batu bara berkalori 4.000 hingga 4600 kcal/kg dengan konsumsi sekitar 7 juta ton per tahun.

Seperti diketahui, hingga kini total pembangkit listrik dalam megaproyek 35.000 MW yang telah beroperasi komersial hingga saat ini baru sebanyak 3.768 MW atau 11 persen dari target. PT PLN (Persero) mendominasi jumlah pembangkit yang telah beroperasi tersebut.

Adapun dari total kapasitas megaproyek yang sebesar 35.463 MW, sekitar 8.800 MW merupakan pembangkit milik PLN, sedangkan sekitar 26.600 MW pembangkit milik  produsen listrik swasta atau independent power producer (IPP).

Baca juga: PLN Janji Tarif Pengisian Energi Listrik Bakal Lebih Murah Dari BBM

Dari 26.600 MW pembangkit milik IPP, baru sebanyak 1.392,6 MW atau 5 persen yang beroperasi komersial (commercial operation date/COD). Sementara itu, dari sekitar 8.800 MW pembangkit PLN, yang sudah COD sebanyak 2.375,8 MW.

Kementerian ESDM memperkirakan sebagian besar megaproyek 35.000 MW akan COD pada rentang waktu 2025 hingga 2028.

Saat ini, sebanyak 21.992,1 MW atau 62 persen pembangkit baru melakukan konstruksi, 7.515,1 MW atau 21 persen pembangkit menyelesaikan pembiayaan atau financial close, 1.453 MW atau 4 persen yang melakukan perencanaan, dan 734 MW atau 2 persen pembangkit yang melakukan pengadaan.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan dengan beroperasinya seluruh megaproyek 35.000 MW, maka kapasitas terpasang pembangkitan pada 2028 akan mencapai 97,5 GW.

Menurutnya, pemerintah telah melakukan monitoring dan evaluasi setiap empat bulan melalui rapat koordinasi dengan PLN untuk menginventarisasi kendala.

“Kendala yang diluar kendali PLN, Ditjen Ketenagalistrikan akan membantu fasilitasi penyelesaiannya dengan mempertemukan stakeholders terkait,” katanya, belum lama ini.

Sementara itu, pada Oktober 2019 akan ada dua pembangkit PLN yang akan beroperasi komersial. Dua pembangkit tersebut yakni PLTU Jawa 7 dan PLTU Cilacap dengan masing-masing kapasitas 1.000 MW. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*