
JoSS, WONOSOBO – Setelah sebelumnya hutan di Gunung Sumbing berkobar, kini api juga membakar hutan di gunung yang bersebelahan, yakni Gunung Sindoro. Kebakaran terjadi di Petak 20 b-2 RPH Anggrunggondok BKPH Wonosobo, Desa Candiyasan, Kertek, Wonosobo, Jateng.
Asisten Perhutani BKPH Wonosobo, Supriyono, mengatakan titik api mulai terlihat sekitar pukul 18.30 WIB pada Senin (23/9) petang. Adapun jenis tanaman yang terbakar adalah rumput dan alang-alang seluas 25,4 hektar.
“Kami mendapat laporan dari warga yeng menghubungi anggota basecamp Pajero Anggrunggondok, terkait adanya adanya titik api pada pukul 18.30 WIB,” katanya seperti dikutip dari detikcom, Selasa (24/9).
Usai mendapat laporan tersebut, sekitar pukul 20.15, petugas basecamp sudah sampai titik kebakaran untuk melakukan pemadaman. Hanya, karena angin yang cukup kencang, membuat pemadaman sulit dilakukan.
“Akhirnya diputuskan, pemadaman dilanjutkan hari ini. Jadi kerugiannya berapa masih belum diketahui,” terangnya.
Namun demikian, berdasarkan pantauannya pada Selasa (24/9) pagi, sudah tidak terlihat titik api atau kepulan asap. Namun demikian, pihaknya bersama TNI/Polri, BPBD, CDK akan melakukan pengecekan ke lokasi kebakaran hutan.
“Semalam memang belum berhasil dipadamkan, tetapi dari kejauhan pagi ini titik api tidak kelihatan termasuk kepulan asap. Hari ini kami akan menyisir ke lokasi kebakaran untuk memastikannya,” tuturnya.
Baca juga: Polisi Bakal Tindak Tegas Pelaku Pembakaran Hutan
Sementara itu, hingga kini kebakaran di Gunung Sumbing belum berhasil dipadamkan. Salah satu kesulitan yang dialami untuk menjangkau titik api karena medan yang terjal di gunung tersebut.
Kapolda Jateng Irjen Pol Kapolda Jateng Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel bersama pejabat teras Polda Jateng melakukan kunjungan di Basecamp Banaran, Tembarak Kabupaten Temanggung.
Rycko kemudian melakukan dialog dengan personil yang terlibat dalam penanganan kebakaran Gunung Sumbing tersebut. Baik itu, Perhutani, BPBD, Pemkab Temanggung, personil Polres Temanggung dan Kodim Temanggung. Selain itu, dialog dengan masyarakat setempat dan pengelola basecamp.
“Kesulitannya sekarang adalah pertama mencapai dari pada titik api. Kesulitan medan, di ketinggian 2400 dengan posisi api di bawah jurang seperti itu. Medannya juga jurang-jurang dan juga bukan medan pendakian. Ini kesulitannya disini, kesulitan mencapai titik api,” kata Rycko kepada wartawan di Basecamp Banaran Tembarak, Temanggung, Senin (23/9).
“Yang kedua, komunikasi juga agak brebet tadi, untung komunikasi masih bisa. Ketiga, peralatan yang mendukung,” tuturnya.
Sementara itu, Plt Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Temanggung, Gito Walngadi menambahkan, kesulitan untuk sampai di titik api karena medan yang terjal. Kemudian lokasi yang terlalu dalam sehingga untuk rekan-rekan relawan tidak sampai ke lokasi sasaran. (lna)

Leave a Reply