22 Korban Tewas di Wamena, Kebanyakan Terjebak Saat Ruko dan Rumah Mereka Dibakar Massa

Ilustrasi | Foto: haipapua.com

JoSS, WAMENA – Kapolda Papua Inspektur Jenderal Rudolf Rodja membenarkan terkait jumlah korban tewas akibat kerusuhan di Wamena Papua pada Senin (23/9) menjadi 22 orang warga sipil. Kebanyakan mereka mengalami luka bakar terjebak saat rumah dan ruko mereka dibakar massa.

Sebelumnya Komandan Kodim (Dandim) 1702/Jayawijaya Letkol Inf Chandra Diyanto menyebut 17 orang warga sipil yang meninggal akibat demonstrasi berujung kerusuhan di Wamena, Papua, Senin (23/9).

“Informasi terakhir seperti itu,” kata Rudolf seperti dikutip dari CNNIndonesia, Selasa (24/9).

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal mengatakan bahwa beberapa korban tewas itu mulanya sempat dirawat. Mereka mengalami luka bakar karena menjadi korban pembakaran ruko.

“22 (tewas), satu meninggal dunia di rumah sakit yang kritis. Mereka ada satu keluarga yang terjebak dibakar massa rumahnya,” ujar Kamal saat dikonfirmasi.

Unjuk rasa di Wamena, Papua berujung rusuh itu diduga karena dipicu pernyataan rasisme. Kerusuhan sempat melumpuhkan aktivitas masyarakat di Wamena.

Baca juga: Polri Sebut Ada Asing Dibalik Rusuh Papua

Massa dilaporkan membakar dan merusak sejumlah fasilitas milik pemerintah dan swasta, termasuk kendaraan bermotor.

Sebelumnya, Polda Papua mengklaim kerusuhan yang terjadi di Wamena hingga berujung pembakaran Kantor Bupati Jayawijaya bermula dari tawuran antarpelajar.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal menjelaskan bahwa mulanya siswa SMA PGRI bersama sekitar 200 orang menggelar unjuk rasa di halaman sekolah. Mereka mengajak siswa sekolah Yapis bergabung dalam aksi. Itu terjadi pada pukul 07.15 WIT.

Namun para pelajar sekolah Yapis tidak mau mengikuti demonstrasi sehingga terjadi perkelahian.

“Aksi perkelahian tersebut meluas dengan melakukan pembakaran beberapa fasilitas pemerintah, umum dan pribadi di Kabupaten Jayawijaya. Aparat gabungan TNI dan Polri masih berupaya menenangkan massa tersebut,” kata Kamal melalui keterangan tertulis, Senin (23/9).

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan bahwa stabilitas di Papua adalah stabilitas Indonesia. Menurut Moeldoko, stabilitas suatu daerah penting untuk memudahkan pembangunan di wilayah tersebut. Ia menyebut jatuhnya korban tewas di Papua saat kerusuhan adalah hal yang sangat memprihatinkan.

“Saya ingin katakan stabilitas Papua adalah stabilitas Indonesia. Dan stabilitas Indonesia adalah stabilitas Papua,” kata Moeldoko saat bertemu pimpinan DPRD kota/kabupaten se-Papua dan Papua Barat di Kantor Staf Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (24/9). (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*