JoSS, SOLO – Ajang Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) para pelaku industri pariwisata di Tanah Air yang tengah berlangsung di Solo hingga 29 Agustus mendatang, diperkirakan dapat meraup transaksi senilai Rp12 Miliar.
Ketua Penyelenggara MICE Mart Daryono mengatakan para pelaku bisnis pariwisata dapat memanfaatkan agenda MICE Mart Mart yang berlangsung di Solo mulai Selasa-Kamis (27-29/8). Di acara tersebut, terdapat pelaku binis MICE dari 35 daerah, antara lain Jakarta, Bali, Jawa Barat, dan Surabaya.
Pada penyelenggaraan MICE Mart ke-3 ini yang membedakan adalah objek wisata yang ditawarkan. Jika pada pelaksanaan dua kali “MICE Mart” sebelumnya Asita lebih banyak menawarkan objek wisata alam, untuk tahun ini penyelenggara mengangkat wisata sejarah.
“Kalau sebelumnya MICE Mart yang kami adakan lebih ke objek wisata alam, sekarang mengangkat wisata sejarah,” kata Daryono yang juga Wakil Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies atau ASITA Jawa Tengah ini, Selasa (27/8).
Beberapa objek wisata yang akan dikunjungi oleh para konsumen potensial MICE, antara lain Kampung Katik, Keraton Solo, dan Pasar Gede. “Para ‘buyer’ akan kami ajak naik Kereta Uap Jaladara,” katanya. “Kami juga mengangkat single destination Joglosemar (Jogja, Solo, Semarang).”
Baca juga: Rampung Renovasi, Stadion Manahan Solo Diresmikan 9 September
Sejumlah konsumen atau potensial buyer di MICE Mart adalah kalangan professional conference organizer atau PCO, professional exhibition organizer atau PEO, insentive travel, dan promotor. Daryono berharap MICE Mart bisa menjadi ajang promosi wisata khususnya di Soloraya.
Daryono memperkirakan potensi transaksi yang akan terjadi selama Mive Mart ini mencapai Rp 12 miliar. Adapun target minimal yang dia patok adalah Rp 6 miliar.
Pihaknya berharap event tersebut bisa menjadi ajang promosi wisata khususnya MICE di Soloraya.
“Kami juga mengangkat ‘single destination’ Joglosemar (Jogja, Solo, Semarang, red) termasuk di dalamnya ‘single destination’ untuk MICE,” katanya.
Apalagi, dikatakannya, saat ini pemerintah menjadikan Candi Borobudur sebagai salah satu kawasan super prioritas untuk mengangkat sektor pariwisata dalam negeri. Ia berharap kondisi tersebut juga dapat berkontribusi bagi pemasukan dari sisi MICE.
“Harapannya tahun 2020 menjadi momen bagus untuk meningkatkan MICE. Ada beberapa venue baru juga yang harus di’update’ pelaku bisnis wisata untuk menyusun data. Termasuk kaitannya untuk penggunaan lelang,” katanya, seperti dikutip dari Antara. (lna)

Leave a Reply