
JoSS, SOLO – Insan seni musik keroncong di Solo tengah berduka. Y.C Sartono Gesuri, meninggal dunia di usia 56 tahun, Selasa (2/7) pukul 00.00 WIB. Kabar duka ini dibenarkan rekan sejawatnya yang merupakan Humas Institut Seni (ISI) Solo, Esha Karwinarno.
Salah satu penggiat musik keroncong di Kota Solo, Jawa Tengah (Jateng), Sartono Gesuri meninggal dunia di Rumah Sakit Dr. Moewardi Solo. Pria yang tinggal di Jl. Puntodewo, No. B2, Perumahan Ngringo Indah, RT 011/RW 022, Ngringo, Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jateng itu akan dimakamkan di Astanalaya Perwoloyo, Solo, Selasa (2/7) pukul 14.00 WIB.
Dikutip dari Solopos.com, sebelum jenazah Sartono Gesuri dimakamkan, akan dilaksanakan upacara penghormatan terakhir yang dimulai pukul 12.00 WIB. Salah satu penggiat musik keroncong di Solo tersebut meninggalkan satu istri, dua anak, dan satu cucu.
Meninggalnya Sartono Gesuri memicu duka mendalam bagi pencinta musik keroncong, khusunya di Kota Solo. Ucapan duka cita atas meninggalnya Sartono Gesuri mengalir deras di media sosial sejak Selasa dini hari.
Semasa hidupnya, Sartono Gesuri aktif berkesenian sejak muda. Ia pernah menjadi kepala jurusan musik di SMKN 8 Solo. Sartono Gesuri kemudian bergabung ke sejumlah kelompok kesenian di Kota Solo, salah satunya pemusik di Wayang Kampung Sebelah.
Baca juga: Ambon Berpeluang Menjadi Kota Musik Dunia
Seperti diketahui, Wayang Kampung Sebelah diciptakan oleh sekelompok seniman yang berasal dari Solo. Seorang dalang bernama Ki Jlitheng Suparman adalah salah satu pendiri Wayang Kampung Sebelah sekaligus sebagai penulis naskah, dibantu oleh rekan-rekannya yakni Yayat Suhiryatna, Max Baihaqi, dan Sosiawan Leak.
Meskipun dalang adalah sebagai sutradara dalam pertunjukan Wayang Kampung Sebelah, tetapi sebagai pemain musik maupun penonton berhak melontarkan komentar atau menimpali dialog maupun ungkapan-ungkapan dalang dalam setiap adegan, menjadikan pertunjukan wayang segar bagi penonton.
Jam tayang untuk Wayang Kampung Sebelah setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 22.30 di MNCTV yang memberikan alternatif hiburan penuh dengan pendidikan dan kritik sosial yang dikemas dalam sajian wayang.
WKS menampilkan boneka-boneka yang terbuat dari kulit yang berbentuk sosok-sosok manusia modern dengan mencerminkan tokoh-tokoh nyata di dalam kehidupan sehari-hari seperti penarik becak, bakul jamu, preman, pelacur, pak RT, Pak lurah, sampai pejabat tinggi tingkat pemerintah kota.
Selain tampil dalam acara televisi, Wayang Kampung Sebelah juga hadir menghibur di tengah masyarakat secara langsung seperti pementasan yang pernah dilakukan dibeberapa tempat seperti di GOR Universitas Muhammadiyah Surakarta, Kulonprogo, dan Bentara Budaya Jakarta. (lna)

Leave a Reply