JoSS, BERLIN – Jerman mulai masuki era layanan internet supercepat 5G. Tarif komersial diumumkan oleh Deutsche Telecom minggu ini, setelah sebelumnya mengumpulkan sekitar 6,5 miliar euro dari penjualan frekuensi 5G ke perusahaan telekomunikasi.
Tarif dibagi menjadi dua kategori yang dibundel dengan Galaxy S10 5G dan hub 5G HTC. Bundel Galaxy S10 5G akan berharga Rp14,2 juta. Paket ini akan membuat pengguna bisa menelepon, SMS, dan data tidak terbatas yang tingkat uplink-nya mencapai 100Mbps.
Sementara HTC 5G Hub dilepas seharga ke pasaran seharga Rp8,9 juta. Ponsel cerdas itu dapat digunakan sebagai gateway untuk beberapa perangkat 5G. Dengan paket itu, HTC memiliki kecepatan unggah hingga 50Mbps.
Terkait frekuensi internet supercepat, Korea Selatan telah menjadi salah satu negara pertama yang memulai layanan 5G dengan tarif mulai Rp600.000. Di AS sendiri, tarif 5G-memiliki rencana tiga tingkat. Pertama di tarif dasar Rp1,2 juta per bulan, tarif kedua Rp1,3 juta, dan ketiga atau yang tercepat Rp1,5 juta per bulan.
Meski demikian, jaringan internet supercepat ini dinilai bakal mengganggu sistem prekiraan cuaca. Sebelumnya, Ars Technica membuat sebuah laporan dan menguraikan implikasi dari kurangnya penelitian yang dilakukan terhadap frekuensi 5G. Hal ini mengarah pada pelelangan spektrum nirkabel terbaru kepada para operator yang ingin membangun jaringan internet supercepat itu.
Baca juga: Pertama di Dunia Korea Selatan Luncurkan Jaringan Seluler 5G
Lelang ini berjalan, meskipun ada potensi keadaan kontroversial. Mengapa kontroversial? Karena banyak ahli memperingatkan transmisi seluler pada pita 24GHz dapat secara signifikan mengurangi keakuratan prakiraan cuaca.
Prakiraan cuaca dilakukan dengan mengukur jumlah radiasi yang dipancarkan dari uap air. Radiasi ini terlihat pada spektrum sekitar 23,8Ghz dan kekhawatirannya adalah bahwa transmisi berat pada pita yang berdekatan -misalnya pita 24GHz dilelang ke beberapa operator- mengganggu kemampuan untuk melihat uap air seperti yang peneliti lakukan sekarang.
Baik NOAA (Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional) dan NASA berpendapat, batas emisi out-of-band FCC yang diizinkan dari -20dB terlalu tinggi. “Oleh karena itu bisa menyebabkan sekitar 77% kehilangan data dari sampel microwave pasif kami,” ungkap Asisten Sekretaris NOAA, Neil Jacobs pada sidang Kongres seperti dilansir dari GSM Arena.
NOAA adalah badan yang menangani peramalan cuaca utama, termasuk badai. Mereka berpendapat, jika FCC akan mengurangi batas out-of-band menjadi -50dB, itu tidak akan mengganggu hilangnya data. Data ini sangat penting saat melacak badai, terutama ketika badai diperkirakan akan mendarat. “Ini bisa mengurangi perkiraan waktu tunggu hingga tiga hari,” sebut Jacobs. (lna)

Leave a Reply