Sejumlah Akademisi Serukan Rekonsiliasi Tokoh Politik Nasional

Ilustrasi | Foto: berbagai sumber

JoSS, JOGJA – Sedikitnya enam rektor dari perguruan tinggi di Jogja menyerukan rekonsiliasi tokoh politik nasional dalam gelaran halah bi halal politik. Hal itu penting untuk menjalin kembali tali silahturahmi baik antar tokoh politik maupun pendukungnya.

Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka), Prof Yudian Wahyudi usulkan tokoh politik nasional gelar halalbihalal politik. Hal itu dilakukan sebagai upaya mendinginkan kembali situasi bangsa, yang sempat memanas paska Pemilu 2019.

Menurut dia, halalbihalal merupakan salah satu cara yang dilakukan dalam meneladani pada wali atau sunan di masa penyebaran agama Islam. Para tokoh politik, diharapkan bertemu, bersatu dalam kebersamaan baru kemudian bersama-sama memikirkan politik Indonesia di masa depan.

“Tidak mudah loh minta maaf, karena [manusia] kan masih ada gengsi ya. Perlu itu ada halal bihalal,” ungkapnya, usai memberikan pemapran dalam seminar Rekonsiliasi Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, diselenggarakan oleh Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara UIN Suka, di lantai II, Gedung Syaifuddin Zuhri (PAU), kompleks kampus terpadu UIN Suka, Sabtu (1/6)

Yudian meminta para elit politik memahami, bahwa Pemilu hanyalah proses mengganti pemilihan pejabat presiden.

Baca juga: Aksi Teatrikal ‘Jokowi – Prabowo’ Bagi Takjil

Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof Panut Mulyono menuturkan, Pancasila bisa menjadi solusi dalam mencapai rekonsiliasi untuk persatuan bangsa. Pancasila sebagai ideologi maupun pandangan hidup bangsa adalah anugerah tiada tara untuk bangsa Indonesia.

“Walaupun kita sebagai bangsa belum berhasil merealisasikan nilai Pancasila, namun kita akui eksistensi kebangsa dan kenegaraan masih bertahan. Pancasila sebagai pendirian asasi harus diperjuangkan,” tuturnya,

Penerapan nilai-nilai Pancasila saat ini menemui tantangan yang semakin meningkat hari ke hari. Terutama dalam implementasi nilai-nilai dasar dalam Pancasila sebagai falsafah dasar negara dan ideologi nasional.

Nilai kemanusiaan, persatuan, kegotong-royongan dan keadilan harus menghadapi sikap-sikap negatif, mulai dari egois dan individualis.

“Kita harus kerja keras. Diperlukan reaktualisasi, rejuvenasi dan revitalisasi Pancasila,” ucapnya, seperti dikutip dari Harianjogja.

Dalam seminar tersebut, hadir pula sejumlah rektor yang juga memaparkan materi mereka. Antara lain rektor Universitas Nahdlatul Ulama Jogja, Prof Purwo Santoso; rektor Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Jogja, Irhas Effendi; rektor Universitas Negeri Yogyakarta, Prof Sutrisna Wibawa; rektor Universitas Islam Indonesia, Fathul Wahid. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*