Mantan Jurnalis Ini Calon Kuat PM Inggris

Ilustrasi | Foto: google

JoSS, INGGRIS – Mantan jurnalis yang banting setir jadi politikus Boris Johnson, menjadi salah satu kandidat terkuat yang diperkirakan akan menggantikan Theresa May sebagai Perdana Menteri Inggris.

Dilansir dari CNNIndonesia, Johnson (54) merupakan mantan luar negeri yang mengundurkan diri pada Juli 2018 lalu. Memiliki nama lengkap Alexander Boris de Pfeffel Johnson lahir di Kota New York, Amerika Serikat pada 19 Juni 1964.

Ia lahir dari keluarga berada di Inggris sehingga tidak mengherankan jika dirinya mampu mengenyam pendidikan di Universitas Oxford, salah satu universitas terbaik dunia. Johnson pernah menjadi ketua persatuan mahasiswa Oxford.

Johnson memulai karir sebagai seorang konsultan manajemen, sebelum akhirnya banting setir ke dunia jurnalistik.

Ia pernah bekerja sebagai wartawan The Times pada 1987, tetapi dipecat karena terbukti memalsukan pernyataan narasumber.

Baca juga: Mantan Menlu Inggris Unggul di Putaran Pertama Pemilihan Perdana Menteri

Pada 1989 Johnson kembali bekerja sebagai koresponden The Daily Telegraph khusus meliput Komunitas Eropa. Karirnya melonjak pada 1994 ketika ia menjabat sebagai asisten editor di perusahaan yang sama.

Pada 1997, ia menjadi kandidat dari Partai Konservatif untuk wilayah Clwyd Selatan tetapi kalah dari rivalnya, Martyn Jones, yang merupakan kader Partai Buruh.

Pada 2001, Johnson berhasil menjadi anggota parlemen di wilayah Henley-on-Thames dan menjabat selama tujuh tahun hingga 2008.

Karir politik Johnson perlahan naik saat dirinya terpilih menjadi walikota London pada 2008 hingga 2016. Selama masa jabatannya, ia berfokus pada masalah kejahatan dan transportasi.

Kemenangan Johnson itu dianggap sebagai peluang bagi Partai Konservatif untuk kembali ikut dalam pemilihan daerah dimana pihaknya pernah kehilangan sekitar 800 kursi di pemerintahan Inggris.

Hingga akhirnya, Johnson terpilih menjadi Menteri Luar Negeri Inggris di bawah pimpinan May pada 2016 hingga 2018. Dia mengundurkan diri pada Juli 2018 lalu karena berseteru terkait Brexit dalam kabinet May. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*