JoSS, KLATEN – Fenomena guguran lava pijar yang kerap terjadi di puncak Merapi justru bisa menjadi daya tarik wisata termasuk saat libur Lebaran. Meski demikian, wisatawan diimbau untuk tetap waspada dan tidak mendekati radius 3 kilometer dari puncak kawah.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta memastikan aktivitas Gunung Merapi belum membahayakan penduduk meski bertahan pada level waspada lebih dari setahun terakhir.
Status Gunung Merapi naik level dari normal menjadi waspada pada 21 Mei 2018. Sejak peningkatan status tersebut, BPPTKG mengeluarkan rekomendasi agar radius 3 km dari puncak Merapi steril dari aktivitas manusia.
Kepala Seksi (Kasi) Gunung Merapi BPPTKG Yogyakarta, Agus Budi Santoso, mengatakan aktivitas Merapi relatif monoton. Sejak 29 Januari 2019, ada perubahan fase dari pertumbuhan kubah lava memasuki pembentukan awan panas dan lava pijar.
“Sejauh ini dari data pemantauan, [pembentukan awan panas] sepertinya masih berlanjut. Indikasinya adalah gempa-gempa internal yang menunjukkan suplai magma itu masih ada namun jumlahnya tidak signifikan. Sehingga kami sampaikan bawah erupsi ini masih berlangsung dan eskalasinya tidak meningkat tajam,” kata Agus, belum lama ini.
Baca juga: Nikmati Keindahan Gunung Merbabu Dari Rest Area Tol Salatiga
Pembentukan kubah lava baru sudah berhenti. Volume kubah lava yang terbentuk sejak Agustus 2018 di puncak Merapi tersebut diperkirakan 458.000 meter kubik. Jika kubah lava runtuh, guguran tak bakal mencapai jarak 3 km.
Sementara, kejadian luncuran awan panas di puncak Merapi sekitar 80 kali sejak Januari lalu. Aktivitas luncuran awan panas sangat kecil dibanding kejadian luncuran awan panas pada erupsi 2006 silam. “Luncuran awan panas pada 2006 itu 80 kali bisa terjadi dalam sehari,” katanya.
Agus memastikan meski status Merapi masih berada pada level waspada, hingga kini aktivitas Merapi tak membahayakan penduduk. Luncuran awan panas atau lava pijar paling jauh 2 km dari puncak atau tak sampai menjangkau daerah aman yang direkomendasikan BPPTKG yakni 3 km dari puncak.
“Rekomendasi kami sejak awal penetapan status waspada masih sama yakni daerah aman itu di luar 3 km. Itu berdasarkan lontaran material di bawah 1,5 km dan awan panasnya masih di bawah 2 km,” urai dia.
Agus mengatakan fenomena erupsi Merapi kali ini justru lebih banyak mengandung aspek keindahan ketimbang aspek bahaya. Fenomena luncuran awan panas atau lava pijar yang kerap terjadi itu bisa menjadi daya tarik wisata tersendiri selama dinikmati di radius aman yakni lebih dari 3 km dari puncak.
Sejumlah lokasi di Klaten yang bisa menjadi tempat untuk menikmati keindahan fenomena tersebut seperti objek wisata Kali Talang di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang atau kawasan objek wisata Deles Indah di Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang. (lna)

Leave a Reply