Pengamat: Mengakses Media Sosial Pakai VPN, Berbahaya Untuk Kerahasiaan Data Pribadi

JoSS, JAKARTA – Upaya pemerintah dalam mencegah peredaran hoax melalui pembatasan koneksi media sosial, seperti WhatsApp dan Facebook menimbulkan persoalan bagi masyarakat luas, khususnya bagi pebisnis ritel yang mengharuskan mereka bertransaksi dan mengirimkan voto maupun video.

Ada indikasi, masyarakat telah mengantisipasinya dengan beralih ke layanan virtual private network (VPN) yang terbukti mampu membuka blokir situs web yang dibatasi.

Namun, pengamat digital memperingatkan bahwa langkah mengakali koneksi yang lambat tersebut, perlu memperhatikan cara kerja dan konsekuensi dari layanan VPN.

“VPN publik ini apalagi yang gratis, memang bisa membantu, tetapi banyak masyarakat yang tidak sadar, apa timbal balik dari layanan yang gratis ini,” ujar pengamat digital, Lucky Sebastian, seperti dikutip dari Tempo.co.

Lucky menjelaskan bahwa penyedia VPN ini membutuhkan biaya karena mereka harus sewa server dan memiliki IP di beberapa negara.

“Dengan memberi gratis untuk apa? Secara skala bisnis kan meragukan ya. Kemungkinan besar pasti ada “biaya” yg harus dibayar pengguna ke penyedia layanan VPN publik gratis ini,” ujarnya.

Baca juga: Rentan ‘Spyware’, Pengguna WhatsApp Sebaiknya Selalu Update Apliaksi Ini

Untuk itu ada pengelola VPN yang memberikan limit waktu atau batasan kuota, setelah itu harus berbayar sebagai salah satu strategi bisnis. Namun, ada juga yang memberikan gratis terus menerus.

Menurutnya, meski website yang dituju pengguna tidak bisa “melihat” koneksi pengguna dari mana saat menggunakan VPN, misal pengguna di Indonesia, akan terbaca dari Singapura atau Amerika, tetapi penyedia layanan VPN bisa melihat pengguna berasal dari mana.

“Kemudian apa saja yang kita lakukan saat terkoneksi dengan VPN, website jenis apa yang sering kita kunjungi, kebiasaan-kebiasaan apa di internet yang kita lakukan, dan lain-lain, ini adalah data berharga untuk mereka. Data ini bisa diolah sedemikian rupa, dan mungkin dijual ke berbagai perusahaan yang membutuhkan,” ujar Lucky.

Oleh karena itu, Lucky memperingatkan pengguna untuk berhati-hati dengan VPN.

“Di satu sisi kita tertolong dengan cloaking, bersama datanya di website atau layanan internet yang kita kunjungi dan sulit di track back, tetapi tetap terdata oleh penyedia jasa VPN,” ujarnya.

Sebelumnya, juga beredar pesan melalui WhatsApp menjelaskan bahwa bagi yang menggunakan VPN jangan melakukan aktifitas perbankan melalui smartphone. Jika ingin melakukan aktivitas yg memasukan password, dan yang bersifat privasi, matikan dulu VPN.

Pesan tersebut juga menghimbau bagi yang menggunakan VPN diharapkan berhati-hati, khususnya yang gratis. Karena ketika pengguna mulai klik dan tersambung, maka saat itu juga pengguna menyerahkan atau melewatkan segala credential pengguna melalui ‘tunnel’ pengelola VPN tersebut.

Pada smartphone yang digunakan banyak background service yang jalan, di antaranya kirim autentikasi user pass, hal ini yang sering membuat pengguna kecolongan.

Sejumlah laman menyebutkan, data pengguna VPN akan tersedot selain akan kebanjiran iklan. Meski belum bisa dipastikan apakah password termasuk data yang tersedot, ada baiknya berhati-hati. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*