Jumeri Mantab Ikut Lelang Jabatan Sepulang Umrah

Jumeri | Foto: humas jateng

JoSS, SEMARANG – Kisah Jumeri, mantan Kepala SMK di Bawen Kabupaten Semarang yang kini menjabat Kepala Dinas Pendidikan Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah memang cukup menarik perhatian masyarakat.

Dia mengatakan, awalnya dia mendengar adanya lelang jabatan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dari grup Whatsapp komunitas kepala sekolah.

Ternyata syarat administrasi yang dimilikinya sesuai kriteria. Jumeri yang saat mendapat kabar itu sedang beribadah umrah di Makkah memantapkan niat untuk mengikuti lelang jabatan tersebut.

Pria Kelahiran Boyolali yang pada 10 Mei nanti genap berusia 56 tahun ini juga masih tidak percaya dengan amanah yang kini diembannya. Pasalnya, persaingannya cukup berat. Mulai dari pejabat Pemprov hingga peserta lelang dengan titel doctor bahkan ada yang professor.

“Sementara saya hanya kepala sekolah biasa tanpa eselon, juga hanya lulusan S2. Namun karena sudah mendaftar, saya tidak merasa takut dan tanpa beban. Artinya kalau kepilih ya syukur, tidak ya tidak apa-apa,” kata Jumeri, seperti dikutip dari Sindo.com, Selasa (7/5).

Baca juga: Lelang Jabatan, Camat dan Kepala Sekolah Jadi Pejabat Tinggi di Jateng

Pria yang pernah dinobatkan sebagai Kepala Sekolah Terbaik Tingkat Nasional tahun 2013 tersebut mengisahkan, awalnya tidak mau maju, namun karena dorongan teman-teman akhirnya mantab untuk mengikuti lelang jabatan. Paling tidak dia mewakili aspirasi teman-temannya.

Dengan bekal pengalaman sebagai guru dan kepala sekolah serta pengalaman di bidang pendidikan lainnya, Jumeri mantap mengikuti proses seleksi dari awal hingga akhir dengan lancar. Hingga akhirnya, dia masuk dalam tiga besar kandidat yang lolos dan namanya dipanggil oleh Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo untuk dilantik menjadi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan pada Senin 6 Mei 2019.

“Senang dan bangga sekali, semoga bisa melaksanakan amanah ini dengan baik. Saya ingin membawa perubahan untuk kebaikan pendidikan di sini, khususnya soal integritas,” terangnya.

Dia mengaku terpilih dan berhasil menyingkirkan belasan pesaing lainnya, berkat penilaian objektif tim panitia seleksi dan penilaian subjektif dari Gubernur Jawa Tengah. Dirinya juga meyakini bahwa pengalamanlah yang membuat dirinya terpilih.

“Ada salah satu soal dalam tes itu yang tidak mungkin dijawab kalau orang itu tidak memiliki pengalaman sebagai pelaku. Nah saya ini kan pelaku, saya ini best practice karena pernah jadi Guru Tidak Tetap (GTT), pernah jadi wakil kepala sekolah, menjadi kepala sekolah, mendirikan sekolah dan pengalaman lain. Artinya saya ini orang lapangan yang juga mengetahui seluk beluk tentang persoalan-persoalan di dunia pendidikan,” pungkasnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*