
JoSS, SUMENEP – Warga Pulau Ra’as merasa khawatir dan trauma dengan gempa Sumenep yang terjadi secara beruntun. Lantaran gempa yang terjadi berkali-kali itu, warga enggan masuk rumah dan memilih berada di depan atau halaman rumah.
Salah seorang warga Pulau Ra’as, Fauzi Muhfa (40) mengatakan, gempa membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah. Mereka khawatir, karena sejak kemarin sudah lima kali terjadi gempa susulan.
“Warga keluar semua tadi, karena getarannya cukup keras,” kata Fauzi Muhfa, seperti yang dilansir dari detik.com, Rabu (3/4).
Hingga kini, kata Fauzi, warga memilih berada di luar rumah, karena takut jika bangunan rumah runtuh.
Dia bersama warga Ra’as berharap, segera ada bantuan tenda dari pemerintah. Sebab sejak selasa (2/4) malam, warga banyak tidur di luar rumah.
“Kami mohon pemerintah segera mendirikan tenda untuk tempat warga malam hari,” terangnya.
Perlu diketahui, gempa dengan magnitudo 4,5 kembali mengguncang wilayah Sumenep, Madura, Selasa (2/4). Diikuti dengan gempa susulan sebagai imbasnya dan itu dirasakan berkali-kali oleh warga Pulau Ra’as.
Baca juga: Cuaca Ekstrim PT KAI Waspadai Bencana dan Perlintasan Sebidang
Berdasarkan informasi yang dihimpun, gempa yang terjadi Rabu sore (3/4) membuat genting-genting dan keramik bangunan berjatuhan. Salah satunya masjid dan rumah di Pulau Ra’as.
Terkait gempa Sumenep, Kepala Stasiun Geofisika Karangkates, Kabupaten Malang, Musripan mengatakan, gempa susulan memang kerap terjadi setelah terjadi gempa besar yang berpusat di suatu daerah. Hal itu dikarenakan adanya pergerakan sesar pada lempengan bumi pasca terguncang getaran gempa Sumenep yang pertama.
“Pergerakan sesar akan terus terjadi sampai menemukan keseimbangan. Ibarat kita membelah bambu,” ungkapnya.
Gempa susulan, sambung dia, cenderung tidak memberikan dampak karena kekuatannya berbeda dengan gempa yang pertama terjadi. Dia menambahkan, ada perbedaan antara gempa Sumenep dengan gempa yang berpusat di Samudera Hindia atau pantai selatan Pulau Jawa. Meski pun sama-sama di karenakan adanya tumbukkan sesar atau lempengan.
“Kalau yang di Sumenep ini di karenakan tumbukan sesar yang tak begitu besar. Berbeda dengan tumbukan lempeng Indo Australia dan Eurasia yang terjadi di perairan selatan Pulau Jawa. Dan akan mengakibatkan dampak yang berbeda,” ujarnya. (nug/lna)

Leave a Reply