Tradisi Gebyuran Kampung Bustaman, Begini Maknanya

bustaman
Tradisi Gebyuran di Kampung Bustaman | Foto: google

JoSS, SEMARANG – Seperti yang dilakukan tahun-tahun sebelumnya, Kampung Bustaman Semarang menggelar tradisi Gebyuran yang dilakukan menjelang Bulan Ramadhan. Kali ini Gebyuran digelar pada Minggu (28/4) sekitar pukul 15.00 WIB. Tradisi yang rutin diadakan menjelang Bulan Ramadhan ini merupakan acara ke-7.

Tradisi gebyuran ini berawal dari kebiasaan Kyai Bustaman yang sering memandikan cucunya saat menjelang Ramadhan.

“Tradisi kampung yang diadakan setiap tahun ini kan mengikuti jejak Kyai Bustaman yang dulu setiap menjelang puasa selalu memandikan cucunya di sumur tua, tradisi untuk kita lestarikan sampai sekarang,” urai sesepuh Kampung Bustaman, Hari Bustaman seperti dirilis Tribunjateng.com.

Gebyuran ini memiliki makna sebagai penghapus dosa selama setahun ini. Dosa-dosa tersebut disimbolkan dengan bedak cair yang ditempelkan di bagian wajah dan tubuh warga. Kemudian air yang akan disiramkan kepada warga, air tersebut akan menghilangkan bedak dan sebagai simbol penghilang dosa.

Dengan semangat, seluruh warga larut dalam euforia perang air ini. Anak kecil, remaja, bapak-bapak hingga ibu-ibu saling lempar air berwana yang dibungkus dalam plastik.

Baca juga: Ribuan Warga Ikuti Tradisi Dugderan Semarang

“Dulu pakainya gayung dan ember, tapi sekarang sudah dimodifikasi dengan dikemas plastik dan diberi warna,” ujar Hari.

“Seru, asik dan basah semua, baru pertama kesini soalnya diajak teman yang asli Semarang. Ini basah semua dan gak bawa baju,” ucap salah satu pengunjung, Layla.

Acara ini dihadiri juga oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari. Indriyasari memutari masjid kemudian membuka acara gebyuran.

“Tradisi ini memiliki nilai histori yang tak hanya membersihkan badan saja tetapi juga membersihkan secara batin,” ucap Indriyasari.

Indriyasari berharap tradisi ini juga bisa meningkatkan pariwisata Kota Semarang. Agar tak hanya dinikmati masyarakat Bustaman dan Semarang saja tetapi bisa dinikmati oleh masyarakat luar kota bahkan luar negeri.

Usai gebyuran, warga kemudian makan bersama masakan yang sudah disiapkan. (Wiek/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*