Tiap Hari Jumat, ASN di Pekalongan Wajib Pakai Sarung Batik

JoSS, PEKALONGAN – Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, mewajibkan aparatur sipil negara memakai sarung batik setiap hari Jumat sebagai upaya melestarikan kerajinan batik dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

Wali Kota Pekalongan Saelany Machfudz di Pekalongan, Rabu, mengatakan bahwa pemakaian sarung batik bagi ASN ini sudah diluncurkan oleh pemkot bersamaan acara resepsi Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-113 Kota Pekalongan.

“Pemakaian sarung batik bagi ASN ini sudah kami gagas satu tahun sebelumnya namun baru bisa kami luncurkan pada rangkaian HUT Ke-113 Kota Pekalongan. Tahun ini baru bisa diluncurkan,” katanya Rabu (3/4).

Dia meminta pemakaian busana sarung batik ini bisa diikuti oleh instansi vertikal, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), BUMN, koperasi, perguruan tinggi, dan masyarakat setempat.

“Pemakaian sarung batik ini sekaligus bertujuan menumbuhkan budaya lama yaitu bersarung batik dan meningkatkan perekonomian sehingga dapat mewujudkan visi pemkot untuk menjadikan Kota Pekalongan yang lebih sejahtera, mandiri, berbudaya, dan berlandaskan nilai religiusitas,” katanya.

Dia mengatakan pada rangkaian HUT Kota Pekalongan juga dimeriahkan Kirab Budaya dan Festival Sarung yang dipusatkan di Jalan Diponegoro, Senin (1/4). Semua peserta kirab mengenakan sarung batik dan menari dengan iringan lagu yang berjudul “Megono” sebagai ciri khas Kota Pekalongan di depan panggung kehormatan, sebelah Apotek Ibu Kota, Jalan Diponegoro.

Baca juga: Batik Jolawe, Gunakan Bekas Sampah untuk Pewarna

Kirab yang dimulai dari Kantor eks Bupati Pekalongan Jalan Alun-Alun No. 1 Pekalongan dan melintasi Jalan Sultan Agung-Jalan Salak hingga Jalan Diponegoro ini sukses mengundang antusias banyak masyarakat Kota Pekalongan.

“Kita serius melestarikan kerajinan batik karena dapat meningkatkan perekonomian warga dan meneguhkan Kota Pekalongan sebagai Kota Kreatif Dunia dan melegimitasi brand Kota Pekalongan sebagai World City of Batik,” katanya.

Saelany Machfudz  mengungkapkan, kirab ini tidak hanya melibatkan jajaran birokrasi melainkan seluruh komponen masyarakat Kota Pekalongan turut dilibatkan. “Hari Jadi Kota Pekalongan ini tidak hanya jadi harinya orang birokrasi atau PNS saja tetapi seluruh komponen masyarakat Pekalongan terlibat,” jelasnya.

“Kita lebih banyak menampilkan variasi acara untuk Hari Jadi Kota Pekalongan yang ke-113 ini termasuk masalah olahraga, kreativitas, budaya dan bahkan budaya Kota Pekalongan yang hampir punah yaitu dialek Kota Pekalongan seperti sakpore, paorak ah yang akan kita ungkap dalam lomba, kemudian sejarah tentang tokoh besar kita, Hoegeng. Saya betul-betul kagum dengan berbagai variasi, kreativitas mereka luar biasa,” ungkap Saelany.

Asisten Administrasi Provinsi Jawa Tengah Heru Setiadhie mengaku pemprov mengapresiasi program pemkot yang berusaha melestarikan kerajinan batik dengan cara meluncurkan pemakaian sarung batik bagi ASN.

“Nguri-nguri budaya ini sebenarnya bagian dari upaya peningkatan usaha masyarakat Kota Pekalongan. Saya mengucapkan terima kasih karena Kota Pekalongan semakin menunjukkan sinergitas dengan Provinsi Jawa Tengah, selalu berkomunikasi dalam membangun dan meningkatkan kesejahteraan di Jawa Tengah,” katanya. (wik/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*