JoSS, SEMARANG – Pemilu 2019 yang akan berlangsung 17 April 2019 bukan sebagai titik kulminasi bagi para jurnalis. Sebab pada saat atau setelah Pemilu masih ada gugatan-gugatan dan tudingan-tudingan negatif yang membuat jurnalis harus bekerja keras lagi.
“Hasil-hasil pemilu masih rentan gugatan-gugatan dan tudingan-tudingan negatif yang jurnalis harus bekerja keras lagi. Caranya jurnalis perlu rajin verifikasi terhadap gugatan dan tudingan itu, agar dapat menghasilkan berita yang akuntabel,” kata Ketua PWI Jateng, Amir Machmud, dalam Focus Grup Discussion (FGD) yang digelar Forum Wartawan Provinsi Jawa Tengah (FWPJT) dan Polda Jateng, dengan tema: Media Bermutu untuk Pemilu, di MG Setos Semarang, Selasa (16/4).
Sementara Ketua IJTI Jawa Tengah, Teguh Hadi Prayitno, berpendapat bahwa media perlu menyajikan berita sesuai fakta yang berimbang dan objektif. Karena sekarang banyak bermunculan media yang belum jelas, apakah media itu sudah terverifikasi dan berbadan hukum, sehingga dengan seenaknya menayangkan berita tidak sesuai fakta.
“Di sinilah sarang penyebar hoax. Dan produk ini bukanlah berita, tetapi informasi,” kata Teguh.
Oleh sebab itu, lanjut Teguh, keberadaan media mainstream dengan sajian berita-berita sesuai fakta berimbang juga proporsional, akan mampu membendung informasi-informasi hoax itu.
Baca juga: Rofiuddin: Peliputan Pemilu Tak Seperti Pemberitaan Sepakbola
Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Semarang yang diwakili Sekjen AJI Semarang, Heri Mulyanto mengatakan, pada jelang pemilu ini, pihaknya berkolaborasi dengan google, aliansi media syber Indonesia, Mavindo, dan Tirto ID menggelar pelatihan bagi para jurnalis, freelance untuk membantu verifikasi terhadap berita-berita.
“Berita-berita yang muncul kami pilah antara yang benar dan hoax. Upaya ini kami lakukan agar berita hoax bisa dicegah,” kata Heri.
Sayangnya, kata Heri, tingkat literasi masyarakat kita masih rendah. Sehingga dengan mudah termakan hoaks. Coba kalau literasinya tinggi, maka hoaks ini hanya menjadi buih-buih, bukan lagi gelombang.
Terakhir, pakar komunikasi Undip, Triyono Lukmantoro, menilai bahwa saat ini ketika media sudah dikuasai oleh jumlah folower atau pengikut, maka media itu dianggap berpengaruh.
“Lantas apa jadinya jika ternyata media yang followersnya cukup banyak menjadi sumber hoax. Apalagi tingkat literasi masyarakat kita yang rendah, sehingga dengan mudah akan terbawa emosinya berita hoax,” kata Triyono. (nug/lna)

Leave a Reply