
JoSS, SRAGEN – Kabupaten Sragen ternyata memiliki warisan bangunan bersejarah dua pabrik gula peninggalan Belanda. Dua pabrik gula tersebut adalah Pabrik Gula Mojo dan Pabrik Gula Kedoeng Banteng.
Selama ini, Pabrik Gula Mojo justru lebih dikenal lantaran pabrik gula ini masih tetap aktif. Namun berbeda dengan Pabrik Gula Kedoeng Banteng. Sebagian besar bangunan fisik pabrik pabrik gula yang terletak di Kecamatan Gondang 13 Km dari kota Sragen ini telah musnah.
Saat ini, yang tersisa dari kejayaan Pabrik Gula Kedong Banteng tersebut adalah bekas rumah dinas administratur atau pimpinan pabrik gula. Bangunan itu masih terawat cukup baik, karena diggunakan sebagai sebuah kantor pemerintahan.
Camat Gondang, Catur Sarjanto mengatakan bangunan kuno yang diperkirakan sudah berdiri sejak 1831 itu kini difungsikan sebagai Kantor Kecamatan Gondang. Selain bekas rumah dinas administratur, masih ditemukan pula sejumlah rumah dinas sinder alias mandor tebu.
“Bekas pabrik gulanya justru sudah tidak ada lagi. Bangunan pabrik gula ini sudah musnah. Sekarang lahan bekas pabrik gula ini sudah dijadikan permukiman penduduk,” kata Catur Sarjanto, seperti yang dilansir dari solopos.com, Minggu (31/3).
Baca juga: Waskita Bangun Rest Area Tol Pejagan-Pemalang di Bekas Pabrik Gula Brebes
Catur menjelaskan, tidak banyak literasi yang bercerita tentang PG Kedoeng Banteng. Menurut cerita dari berbagai sumber, keberlangsungan PG Kedoeng Banteng mengalami pasang surut dikarenakan terjadi konflik internal.
Menurut literasi yang dia baca, ada perseturuan antara pemilik pabrik dengan pelaksana proyek yang sama-sama orang Belanda. Pemilik pabrik menginginkan pabrik itu dibangun di selatan rel, tapi pelaksana proyek memindahkannya ke utara rel yang berdekatan dengan sumber air di sungai.
“Pabrik ini hanya beroperasi selama satu-dua tahun sejak dibangun. Setelah itu tidak beroperasi lagi. Oleh sebab itu, pabrik ini memiliki sebutan lain di kalangan masyarakat sekitar yakni PG Sido Wurung yang berarti jadi belum atau belum jadi,” jelasnya.
Menurut literasi lain, lanjut Catur, pabrik kembali beroperasi pada 1929. Namun saat pabrik ini mulai merangkak ke puncak kejayaan, terjadi krisis malaise yang membuat harga gula jatuh karena pasokan gula melimpah. (nug/lna)

Leave a Reply