JoSS, LIMA – Mantan Presiden Peru, Alan García tewas bunuh diri dengan cara menembak kepalanya sendiri ketika polisi datang untuk menangkapnya atas tuduhan menerima suap semasa menjabat.
Dia sempat dirawat di rumah sakit di Ibu Kota Peru, Lima, dengan luka tembak di kepala, namun nyawanya tidak tertolong. Dia menghembuskan nafas terakhir di usia 69 tahun.
“Saya bersedih atas kematian tanpa diduga mantan president Alan García,” ujar President Peru, Martín Vizcarra ketika mengkonfirmasi berita itu sebagaimana dikutip Theguardian.com, Kamis (18/4).
Presiden juga menyampaikan ucapan belasungkawa kepada keluarga mantan penguasa negara Amerika Latin tersebut.
Peristiwa bermula ketika García dituduh telah menerima suap dari perusahaan Brasil Odebrecht. Akan tetapi dia menolak tuduhan ini. Polisi kemudian dikirim untuk menangkapnya atas tuduhan tersebut.
Menteri Dalam Negeri Carlos Morán mengatakan kepada wartawan bahwa ketika polisi tiba, Garcia meminta izin untuk menelepon. Dia lantas masuk ke suatu ruangan dan menutup pintu.
Baca juga: Memprihatinkan, Kasus Bunuh Diri di Wonogiri Tinggi
Beberapa menit kemudian, menurut Morán, polisi memaksa membuka pintu dan menemukan Garcia duduk di kursi dengan luka tembak di kepalanya.
Pihak penyelidik mengatakan Garcia menerima suap dari Odebrecht pada masa jabatannya yang kedua sehubungan dengan pembangunan jaringan kereta di ibu kota.
Odebrecht mengaku telah mengeluarkan uang untuk suap sebesar US$30 juta untuk keperluan suap di Peru sejak 2004. Namun, Garcia mengatakan dia adalah korban persekusi politik.
Lahir di Lima, Peru 23 Mei 1949, pria bernama lengkap Alan Gabriel Ludwig García Pérez ini menjabat sebagai presiden dari tahun 1985 hingga 1990 dan menjabat lagi tahun 2006 hingga 2011.
Ia juga adalah ketua Partai Apris Peru dan anggota partai APRA yang menampilkan dirinya sebagai presiden untuk masa jabatan pertamanya.
Ia memenangi pemilu putaran kedua dengan 55,46 persen, sekaligus mengalahkan Ollanta Humala yang memperoleh 44,54 persen suara. Pemilu presiden 2006 tersebut dilukiskan sebagai momen istimewa, dengan rakyat terpaksa “memilih di antara yang terburuk”.
García adalah Presiden Peru yang punya reputasi pernah memperburuk keadaan ekonomi Peru dengan kebijakan-kebijakan nasionalis pada era kepemimpinannya. Pertarungan antara Humala mengakibatkan aneka konflik di antara para pendukungnya.
Keduanya saling mencela dengan keras. Model persaingan politik keduanya membuat sebagian rakyat Peru memilih “golput” alias absen memilih. Ia memulai jabatan perioda keduanya pada 28 Juli 2006.
Ia menganjurkan warga Peru memakai daun koka untuk menyedap rasa guna memerangi produksi dan peredaran kokain secara ilegal.
Selain mempercayai pemakaian koka guna keperluan legal juga akan mengakhiri perdagangan liar kokain. Ia juga akan mengawasi penjualan bahan kimia dan kerosin yang sering dipakai untuk menyuling kokain.
“Anda juga bisa memakainya untuk memanggang daging atau apapun guna menambah kelezatan penganan,” kata sang presiden. (lna)

Leave a Reply