Gunung Agung Erupsi Lagi, Aktivitas Penerbangan di Bandara Ngurah Rai Normal

aktivitas penerbangan
Erupsi Gunung Agung di Bali | Foto: twitter @vulkanologi_mbg

JoSS, DENPASAR – Gunung Agung di Bali meletus lagi. Kali ini tinggi kolom abu teramati setinggi sekitar 5,1 kilometer dari atas permukaan laut. Meski demikian, aktivitas penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai dilaporkan normal.

Communication and Legal Section Head Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Arie Ahsanurrohim mengatakan jadwal penerbangan sejauh ini masih normal, tidak ada yang tertunda. Hal itu berdasarkan analisa petugas Air Traffic Controllers (ATC) yang melaporkan bahwa cuaca dan kondisi jalur penerbangan aman.

“Insya Allah aman, penerbangan masih normal,” katanya, seperti yang dilansir dari detik.com, Kamis (11/4).

Letusan Gunung Agung terjadi pada pukul 18.47 Wita. Suara gemuruh lemah terdengar sampai Pos Rendang

“Tinggi kolom abu teramati ± 2.000 m di atas puncak (± 5.142 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat,” kata sumber dari PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Kamis (11/4).

“Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi ± dua menit  delapan detik,” lanjut PVMBG.

PVMBG menjelaskan, saat ini Gunung Agung dalam status Siaga III. Masyarakat mau pun wisatawan diminta tidak beraktivitas dalam radius 4 km dari kawah puncak Gunung Agung.

Baca juga: Masyarakat Desa Tangguh Bencana Lebih Siap Hadapi Bencana

Terkait letusan Gunung Agung, PVMBG mengeluarkan rekomendasi yaitu masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak melakukan aktivitas apa pun di Zona Perkiraan Bahaya, yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak Gunung Agung.

Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual/terbaru;

Selain itu, masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak.

Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.

Sebelumnya Gunung Agung meletus tanggal 4 April 2019. Tercatat dalam letusan tersebut terjadi lontaran lava pijar sejauh 2 km. (nug/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*