
JoSS, SEMARANG – Desa Sepakung memanfaatkan dana desa untuk mengembangkan potensi wisata yang ada. Yaitu objek wisata Wahana Ondo Langit di kawasan Gumuk Reco, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang.
Wahana Ondo Langit adalah objek wisata yang memancing adrenalin sekaligus menyajikan panorama alam yang indah. Di tempat ini, pengunjung dapat menikmati sensasi menaiki tebing curam setinggi 45 meter dan menikmati pemandangan alam dari lereng tebing.
“Wahana Ondo Langit sekarang jadi unggulan di desa kami. Setiap hari, wahana ini tidak pernah sepi. Pada akhir pekan saja, pengunjung bisa mengantre ratusan orang untuk menunggu giliran menaiki wahana ini,” kata Kepala Desa Sepakung, Ahmat Nuri, seperti yang dilansir dari Solopos, Jumat (12/4).
Selain Wahana Ondo Langit, Desa Sepakung memiliki objek wisata lain yang dikelola Bumdes Mandiri Jaya. Seperti Cemoro Sewu, Air Terjun Gua Semar, Bumi Perkemahan Balong, wahana Sunset dan Sunres di Dusung Pager Gedog dan lain-lain.
“Kami mengembangkan objek wisata dengan memanfaatkan dana desa. Selain itu juga ada bantuan dari Pemkab Semarang dan Pemprov Jateng untuk peningkatan infrastruktur,” ujar Ahmat.
Pemanfaatan dana desa untuk optimalisasi potensi wisata, lanjut Ahmat, ternyata berdampak signifikan. Selain membuat desa semakin terkenal dan banyak dikunjungi wisatawan, pendapatan desa dari wisata juga meningkat drastis.
Baca juga: Rp50 Miliar Dana Pembebasan Lahan Tol Semarang-Batang Belum Dibayar
“Untuk wisata Gumuk Reco dengan wahana Ondo Langit, bisa menghasilkan Rp 50-60 juta per bulan. Kalau ditotal dengan wahana-wahana wisata lainnya, pemasukan ke desa bisa mencapai ratusan juta per bulannya,” paparnya.
Hal itu tentu saja membuat kesejateraan masyarakat desa semakin meningkat. Dengan ramainya wisatawan, maka perekonomian masyarakat dapat bergerak.
“Selain itu, APBDes kami juga meningkat, dari semula Rp 1,5 miliar di tahun 2015 kini menjadi Rp 2,1 miliar di tahun 2019,” ujarnya.
Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo mengatakan, jika tahun ini provinsinya menjadi penerima dana desa terbesar di Indonesia. Pada tahun 2019, dana desa yang digelontorkan untuk 7.809 desa di Jateng mencapai Rp 7,8 triliun atau naik sekitar 17,1 persen dari dana desa tahun 2018, yakni Rp 6,74 triliun.
Menurut Ganjar, dana desa diberikan oleh pemerintah sebagai upaya untuk pemerataan kemajuan Indonesia. Dengan dana desa tersebut, diharapkan desa-desa dapat maju dan berkembang.
“Pemerintah hanya memfasilitasi, pengguna dana desa yang bekerja. Tolong penggunaan dana desa benar-benar sesuai program, transparan, akuntabel dan bermanfaat,” pesan Ganjar. (nug/lna)

Leave a Reply