Pria Dibalik Geber Warung Pecel Lele Lamongan

pecel lele
Spanduk pecel lele | Foto: google

JoSS, BEKASI – Jika anda penggemar Pecel Lele Lamongan, tentu tak asing dengan geber atau spanduk menu makanan yang mudah di jumpai hampir di seluruh penjuru Tanah Air ini.

Warung kaki lima ini, memiliki keunikan sendiri sehingga gampang untuk menemukannya. Selain bertuliskan Pecel Lele Lamongan, pada gebernya ada gambar ikan lele, ayam dan bebek dengan warna yang mencolok.

Spanduk itu juga mencantumkan jenis minuman yang umum disediakan yaitu es jeruk dan esteh. Rasanyapun nyaris sama di berbagai daerah sekalipun anda mungkin tidak sedang berada di Jawa.

Spanduk pecel lele Lamongan amat legendaris di Indonesia. Seakan ada pakem yang mengatur formatnya. Langgam gambarnya pun mirip-mirip. Spanduk warung pecel lele di Samarinda, tak akan jauh berbeda dibanding warung sejenis di Nabire sampai Wonosobo.

Dirilis Vice.com, gambar spanduk pecel lele menginspirasi banyak kalangan—mulai dari mahasiswa hingga pengamat seni rupa untuk menelitinya.

Duo kreator musik elektronik seperti Gabber Modus Operandi turut meminjam brand image pecel lele yang eksentrik menjadi latar panggung di setiap konser mereka.

Julukan buat spanduk ini adalah ‘letter’. Istilah dibuat para pengusaha pecel lele sendiri, sebab spanduk mereka anggap pengganti tulisan daftar menu.

Kendati pecel lele identik dengan Lamongan, rupanya maestro pelukis spanduk pecel lele tidak tinggal di kabupaten pesisir utara Jawa Timur itu.

Dia orang Lamongan tulen, namanya Hartono. Tapi sehari-hari Hartono menghabiskan hari dalam studio tempatnya berkarya di Pekayon, Bekasi, Jawa Barat.

Baca juga: Bilang ‘Tak Ada Azan Kalau…’ Tiga Wanita Dikenai Pasal Berlapis

Hartono, 48 tahun, sekarang diakui sebagai maestro gaya visual spanduk yang sering kita jumpai terpasang di depan warung pecel lele.

Meja besar persegi panjang penuh dengan potongan kain, aroma kimia, dan coretan cat adalah pemandangan yang segera menyambut VICE saat masuk ke ruangan 7 x 3 meter tempat dia berkarya.

Hartono adalah anggota perkumpulan masyarakat Paguyuban Keluarga Besar Ngayung (PKBN) Lamongan, yang tinggal di Jabodetabek.

Mayoritas anggota PKBN pengusaha warung pecel lele. Berkat statusnya sebagai pengurus organisasi, permintaan membuat spanduk terus berdatangan sehingga Hartono berhasil hidup hanya dengan melukis spanduk pecel lele.

Padahal pelukis lain, termasuk yang tinggal di Lamongan, bertumbangan akibat order sepi. “Sehari pun tidak pernah putus, terus nyambung ngelukis spanduk,” ujarnya.

Kata Hartono, yang memulai karirnya sebagai mengelola warung pecel lele sebelum jadi pelukis spanduk penuh waktu, menggambar lele dan ayam lebih menantang dibanding melukis di atas kanvas.

“Teman saya ada yang seniman dan sudah pameran tunggal, jago banget. Tapi kalau disuruh ngelukis di spanduk itu enggak bisa,” kata bapak dua anak ini. (Wiek/lna)

2 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*