JoSS, BOYOLALI – Sebanyak 38 orang yang merupakan 11 keluarga pergi meninggalkan Dusun Jengglong, Desa Sempu, Kecamatan Andong, Boyolali ke Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin asuhan Muhammad Romli di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Malang karena keyakinan akan dunia akan kiamat.
Anak-anak berusia sekolah bahkan memilih keluar demi mengikuti orang tuanya. Mereka merupakan pengikut Tarekat Musa yang dibawa seorang warga setempat bernama Agus Salim. Ajaran ini diduga sama seperti yang tersebar di Desa Watubonang, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Kepala Desa Sempu, Suyatna, menyebutkan isu kiamat sudah dekat ramai di kalangan warga Jengglong sejak 1 Maret lalu kemudian warga secara berangsur-angsur meninggalkan rumah hingga 3 Maret.
“Mereka pergi begitu saja, tanpa izin kepada desa atau kadus,” ujar Suyatna didampingi Kadus Jengglong, Nurhadi, seperti dirilis Harianjogja.com, di kantor desa, belum lama ini.
Perginya 11 keluarga itu disebabkan kepercayaan mereka bahwa kiamat yang sebentar lagi tiba akan didahului jatuhnya meteor di wilayah Jawa Tengah serta bencana alam selama tiga tahun berturut-turut.
Baca juga: Puluhan Warga Watu Bonang Bedol Desa Karena Isu Kiamat
Beberapa warga pergi ke Malang juga diketahui menjual harta benda mereka seperti tanah dan rumah. “Namun tidak semua, beberapa bisa kami cegah, hla nanti kalau pulang ke Sempu tapi tidak punya apa-apa bagaimana?” imbuhnya.
Menurut cerita Kades, ada juga beberapa keluarga yang pergi bersama-sama membawa gabah sebanyak 14 ton. Gabah itu akan menjadi cadangan makanan selama tiga bulan tinggal di pondok, yaitu Rajab, Ruwah, dan Ramadan.
Pemerintah desa telah melaporkan kejadian yang menimpa warganya kepada Muspika Kecamatan Andong dan Polsek setempat dengan harapan segera ditemukan jalan keluar.
“Jika ada yang mau pergi (ke Malang) untuk alasan beribadah pemerintah desa juga bingung mau melarang,” imbuh dia.
Kades berharap warga yang pergi segera kembali. Sebagian besar di antara mereka masih berusia sekolah, mulai dari SD, SMP, dan SMA. Dia menyayangkan anak-anak yang keluar dari sekolah begitu saja untuk pergi ke Malang padahal ada yang akan menjalankan ujian nasional. (Wiek/lna)

Leave a Reply