
JoSS, SRAGEN – Desa Bonagung Kecamatan Tanon, Sragen dulu dikenal sebagai tempat perburuan pehobi batu akik menyusul di daerah tersebut telah ditemukan lahan seluas 2 hektar yang kaya batu mani gajah, dan ini berkah bagi warga yang ramai sebagai penambang batu akik.
Kini stelah perburuan itu kian meredup, warga mengadalkan wisata air keluarga.
Empat tahun lalu, warga sekitar mendapat berkah setelah alih pekerjaan sebagai penambang batu mani gajah. Desa Bonagung menjadi rujukan para penggila batu akik dari berbagai kota di Tanah Air. Namun, setelah batu akik tak lagi booming, warga Desa Bonagung kembali menekuni pekerjaan aslinya sebagai petani.
Kehebohan soal batu mani gajah saat ini hanya tinggal cerita bagi warga. Namun, Desa Bonagung belakangan kembali menjadi perbincangan hangat, khususnya bagi warga Kecamatan Tanon dan sekitarnya. Penyebabnya, Desa Bonagung kini memiliki objek wisata air yang baru dibuka pada 1 Januari lalu.
Terdapat dua kolam renang anak yang dibangun di dekat Bumi Perkemahan Raden Ranu Kusumo di Dusun Pancuran, Desa Kebonagung. Dua kolam renang itu meliputi kolam renang anak dengan kedalaman 20-75 cm dan kolam mandi bola.
Baca juga: Pemkot Solo Patenkan Jajanan Pasar
“Dalam musyawarah desa pada 12 November 2018 disepakati pembangunan kolam renang. Pada 17 November 2018, pekerjaan fisik dimulai. Lalu pada 1 Januari 2019 kolam renang dibuka,” jelas Kepala Desa Bonagung, Suwarno, seperti dikutip dari Solopos.com di Sragen, belum lama ini.
Objek wisata air dibangun dengan dana senilai Rp350 juta. Dana tersebut berasal dari BUMDesa bekerja sama dengan masyarakat Desa Bonagung melalui sistem saham. Warga bisa membeli saham objek wisata ini senilai Rp10 juta.
“Objek wisata air ini dikelola BUMDesa, parkir kendaraan dikelola karang taruna, sementara pedagang yang menjajakan jajanan di lokasi adalah warga sekitar. Mereka didampingi BPKP (Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan) Provinsi Jateng,” terang Suwarno.
Setelah di-launching pada awal Januari lalu, objek wisata ini makin ramai dikunjungi warga dari berbagai daerah seperti Tanon, Gemolong, Plupuh, Sumberlawang, Mondokan, dan lain-lain. Wahana ini dibangun di tanah kas desa seluas 3 km.
Air kolam dari wahana berasal dari Sendang Kowang yang berada tak jauh dari lokasi. “Rencananya kami melengkapi wahana ini dengan kolam pemancingan, arena bermain flying fox, dan kolam dengan kedalaman 120 cm. Sumbernya dari APBDesa 2019,” papar Suwarno. (Wiek/lna)

Leave a Reply