Pernah Dibakar Belanda Toko Roti Go Masih Eksis

Toko Roti Go
Toko Roti Go Purwokerto | Foto: google

JoSS, PURWOKERTO – Toko Roti Go Purwokerto adalah took roti yang sangat legendaries di Purwokerto. Bahkan boleh dikata toko roti yang berdiri tahun 1898 itu merupakan toko roti yang tertua di Indonesia.

Toko Roti Go berada di Jalan Jenderal Soedirman Nomor 724 Purwokerto dan dikelola oleh pasangan suami istri Rosani Wiogo dan FX Pararto Widjaja. Rosani Wiogo sendiri adalah generasi ketiga yang meneruskan usaha toko roti leluhurnya.

Bersama dengan suaminya yang juga mantan dosen Farmasi UGM itu berjuang melanjutkan usaha warisan semenjak 2004 usai orang tuanya meninggal.

Cerita bermula ketika pada 1898 pasangan Oei Pak Ke Nio dan suaminya, Go Kwe Ka mencoba membuat dan membuka toko roti.

Dipilihlah nama Roti Go diambil dari nama Go Kwen Ka.

Usaha roti milik keluarga ini harus melewati fase kolonial yang diwarnai konflik dan peperangan.

Toko roti Go pernah mengalami keganasan perang di masa penjajahan.

Semasa agresi militer Belanda II pada 1948, toko tersebut dibakar hingga luluh lantah.

Baca juga: Tahu Pojok, Kuliner Legendaris di Magelang

“Menurut cerita orang tua saya, waktu itu toko musnah terbakar hanya menyisakan oven dan alat peracik roti berbahan besi yang kebal dari api.

Untungnya seluruh pekerja berhasil menyelamatkan diri,” ujar Rosiani seperti dikutip dari Tribunjateng.com, Rabu (13/2).

Ciri khas dari toko roti Go adalah mempertahankan tradisionalitasnya. Pemanasan oven masih menggunakan kayu bakar.

Menurut penuturan Rosani Wiogo, pemanggangan dengan cara itu memengaruhi cita rasa roti yang kuat dengan aroma panggang alami.

Jika roti sudah masak, maka akan diambil menggunakan galah bambu yang dimodifikasi. Dalam memasak roti seluruh pekerja hanya mengandalkan insting.

Tidak ada petunjuk suhu atau termometer pada alat itu layaknya oven modern. Namun insting para pekerja sudah kuat dalam mengetahui suhu yang pas untuk memanggang roti.

Alat pengukur suhunya adalah tangan mereka sendiri. Mereka memasukan sebentar tangannya ke mulut oven, untuk mengetahui panasnya apakah sudah sesuai atau belum.

Bukan hanya alat-alat dan cara pengolahan yang tradisional. Bahan baku yang dipakai pun masih menggunakan bibit roti (biang) keluarga yang diwariskan secara turun temurun selama ratusan tahun. (Wiek/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*