Minim Peralatan BPBD Jadi Kendala Penanganan Bencana

Minim peralatan
Ilustrasi | Foto: berbagai sumber

JoSS, SEMARANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang hingga saat ini minim peralatan dalam penanganan bencana. Hal tersebut tentunya menjadi kendala bagi para petugas ketika menangani suatu bencana.

Menurut Kepala BPBD Kota Semarang Agus Harmunanto, hingga saat ini peralatan yang dimiliki BPBD Kota Semarang masih berupa peralatan manual. Alhasil, penanganannyapun masih dilakukan secara manual pula.

“Misalnya longsor beberapa waktu lalu, kami minta bantuan Dinas Pekerjaan Umum (DPU). DPU mengirim eskavator tapi harus menyelesaikan pekerjaannya dulu. Padahal kami harus cepat menggali. Jadi, penanganan bencananya menjadi kurang cepat,” terangnya kepada JoSS.co.id di Semarang, Minggu (22/2).

Dijelaskan, ekskavator adalah peralatan yang krusial dalam penanganan bencana seperti tanah longsor. Selama ini, pihaknya masih bergantung kepada dinas lain ketika membutuhkan alat tersebut sehingga, penanganan bencana masih kurang cepat.

Selain itu, pihaknya juga belum mempunyai mobil tanki untuk mememberikan distribusi air bersih bagi daerah yang membutuhkan. Dikatakannya, bencana tidak hanya datang saat musim penghujan saja seperti banjir maupun tanah longsor namun kekeringan saat musim kemarau juga termasuk kebencanaan yang harus ditangani oleh BPBD.

“Mobil tanki ini untuk distribusi air bersih ke tempat-tempat yang kekurangan air. Selama ini kami masih bergantung kepada pihak lain untuk menangani masalah distribusi air bersih,” katanya.

Baca juga: Ita Instruksikan OPD Tanggap Bencana

Diakuinya, BPBD kota Semarang masih memakai alat manual seperti pacul dan sekop ketika menangani beberapa kali longsor yang terjadi belum lama ini. Hal itu dinilai kurang maksimal terlebih jika terdapat korban yang tertimbun, penanganan menggunakan alat manual kurang cepat.

“Kekuatan petugas terbatas. Jika pakai ekskavator penanganan akan lebih cepat,” tukasnya.

Agus menambahkan, pihaknya akan mengajukan permohonan anggaran untuk pengadaan back hoe dan mobil tanki pada 2020 mendatang. Adapun besaran anggaran yaitu Rp 500 juta untuk pembelian eskavator dan Rp 800 juta untuk pembelian mobil tanki.

Sementara itu, pada tahun ini, Agus mengatakan, BPBD Kota Semarang menambah tiga Early Warning System (EWS) yang akan dipasang di Mangkang Kulon, Mangkang Wetan, dan Sukorejo guna mendeteksi bencana. Total anggaran yang dikeluarkan mencapai Rp300 juta.

Terpisah, Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Laser Narindro mendorong BPBD Kota Semarang untuk melengkapi peralatan kebencanaan berupa mobil tanki dan eskavator.

“Masalah eskavator, nanti bisa melakukan pengadaan eskavator kecil agar bisa menjangkau jalan yang sempit,” ujarnya.

Selain fasilitas, lanjut Laser, pihaknya berharap ada kegiatan terkait masalah pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) seperti sosialisasi maupun pelatihan kesiapsiagaan bencana. (gus/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*