Masuk ke Sektor Produktif Kredit Bank Jateng Ditarget Tumbuh 14%

bank
Ilustrasi | Foto: google

JoSS, SEMARANG – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah atau Bank Jateng pada tahun ini akan lebih gencar masuk pada sektor-sektor produktif guna mendongkrak penyaluran kredit UMKM yang pada tahun ini ditarget tumbuh sebesar 14%.

Perusahaan akan menjangkau wilayah-wilayah kemiskinan yang ada di Jawa Tengah.

Direktur Utama PT BPD Jawa Tengah Supriyatno mengatakan perusahaan akan menjangkau wilayah-wilayah kemiskinan yang ada di Jawa Tengah.

Dia mengungkapkan pihaknya berharap ekonomi dapat lebih baik lagi pada kuartal pertama dan kedua tahun ini, sehingga penyaluran kredit bisa tumbuh lebih baik lagi. “Sekitar 13%–14% saya kira masih wajar,” katanya Minggu (24/2), seperti dikutip dari Antara.

Supriyatno menjelaskan BPD Jateng akan masuk ke sektor-sektor produktif untuk meningkatkan pertumbuhan penyaluran kredit sepanjang tahun ini. Termasuk di dalamnya pemberian kredit terhadap para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Selain itu, BPD Jateng  akan menggenjot penyaluran kredit ke sektor-sektor nelayan dan pertanian seperti yang digalakkan pemerintah pusat maupun daerah.

Saat ini, lanjutnya. masih terdapat wilayah-wilayah kemiskinan di Jawa Tengah, dan perusahaan harus hadir di wilayah-wilayah tersebut.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan Regional 3 Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mengungkapkan masih terdapat sektor-sektor prioritas yang belum digarap secara optimal oleh industri jasa keuangan sepanjang 2018.

Baca juga: Bank Jateng Gandeng Pemda Garap Pengelolaan Keuangan Digital

Industri Jasa Keuangan juga dinilai masih memiliki ruang cukup besar untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Jateng.

Aman Santosa, Kepala OJK Regional 3 Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengungkapkan sektor prioritas yang belum digarap secara optimal seperti sektor pertanian.

“Terdapat sektor prioritas yang belum secara optimal digarap oleh industri jasa keuangan,” katanya.

Aman  menjelaskan, sektor pertanian yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah sebesar 10,67% belum mendapatkan penyaluran kredit secara memadai.

Kondisi tersebut, lanjut Aman, terlihat dari pangsa pasar kredit sektor pertanian yang hanya sebesar 3,39% dari total kredit perbankan di Jawa Tengah.

Kredit di sektor pariwisata juga belum digarap maksimal oleh industri jasa keuangan mengingat persentase kreditnya baru mencapai 2,10% dari total kredit.

“Dukungan industri jasa keuangan di sektor ini sangat diharapkan, khususnya untuk mendukung pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) 2019, yaitu Borobudur, Sangiran, Karimunjawa, dan Dieng,” kata Aman.

Selain sektor prioritas yang belum tergarap secara optimal, terdapat beberapa daerah dengan potensi UMKM besar juga belum digarap secara optimal oleh industri jasa keuangan.

Berdasarkan riset OJK, Kabupaten Demak, Jepara, Pekalongan, dan Wonogiri adalah daerah yang memiliki banyak UMKM. Akan tetapi, penyaluran kredit di daerah tersebut masih di bawah rata-rata Jawa Tengah.

Penyaluran kredit industri jasa keuangan di Jawa Tengah sepanjang tahun lalu mencapai Rp302,8 triliun atau lebih tinggi 8,56% dibandingkan dengan kredit sepanjang 2017. Meskipun begitu, pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kredit nasional. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*