Jatim Fokuskan Pengembangan Daerah Sekitar Tol Trans Jawa

Pengembangan daerah
Ilustrasi | Foto: twitter

JoSS, SURABAYA – Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawangsa akan mefokuskan investasi dan pengembangan daerah yang dilintasi Tol Trans Jawa guna memanfaatkan peluang dengan adanya infrastruktur tersebut.

Menurut dia beroperasinya Tol Trans Jawa dari Jakarta hingga Surabaya menjadi pendorong untuk membuka kawasan industri baru maupun dari hasil relokasi di luar Ring 1 seperti di Jombang, Nganjuk dan Ngawi.

Dia mengaku telah melakukan navigasi dan pemetaan untuk mendorong pertumbuhan dunia usaha di Jatim dengan melakukan koordinasi dengan para pengusaha di Jatim. Pengembangan kawasan pinggir ini untuk pemerataan kesejahteraan masyarakat.

“Pengembangan kawasan ini untuk pemerataan kesejahteraan Jatim di bagian selatan dan pengembangan industri di luar Ring 1,” katanya, Selasa (19/2) seperti dikutip dari Bisnis.com.

Dia menjelaskan saat ini Jawa Timur sudah terhubung dengan jalan tol Trans Jawa sehingga sangat potensial untuk pengembangan industri di daerah kabupaten yang dilewati akses tol tersebut.

“Sekarang sudah ada jalan tol, jadi relokasi industri itu jangan dilakukan di luar Jatim tapi harus mereka (pengusaha) diajak untuk investasi di Jombang, Nganjuk, Ngawi dan daerah-daerah sepanjang tol karena itu memungkinkan mereka bisa melakukan efisiensi logistik,” imbuhnya.

Baca juga: Pengamat: Lebih Baik Jalur Bus di Jalan Tol Ketimbang Untuk Sepeda Motor

Menurutnya, selama ini hal yang dianggap efisien adalah yang berdekatan dengan akses jalan dan pelabuhan. Maka, lanjutnya, sekarang antara Surabaya – Nganjuk dan Surabaya – Pasuruan sudah sama aksesnya.

Dalam kesempatan yang berbeda, Ketua Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha (Forkas) Jawa Timur, Nur Cahyudi mengatakan Jatim harus bisa mengambil manfaat adanya pembangunan infrastruktur, terutama jalan tol dalam rangka untuk mengembangkan konektivitas dan mendorong tumbuhnya sentra-sentra ekonomi baru di luar Ring 1.

“Tentunya dengan adanya Trans Jawa ini akan memperlancar arus barang dan jasa serta mobilisasi orang yang tentu akan meningkatkan efisiensi,” katanya.

Menurut Nur yang juga Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) itu, Pemprov Jatim juga harus punya business solution center yang secara khusus menangani permasalahan dunia usaha di Jatim agar dapat dengan mudah dicarikan solusinya.

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Timur mencatat pada tahun lalu, realisasi investasi usaha PMDN (penanaman modal dalam negeri) menurut lokasi, kebanyakan berada di wilayah Surabaya 29%, Gresik 22%, Sidoarjo 7%, Malang 6%, Bayuwangi 5%, Blitar dan Mojokerto masing-masing 4%, Jember, Lumajang dan Situbondo masing-masing 3%. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*