Gudeg Adem Ayem, Langganan Para Presiden

JoSS, SOLO – Jangan kaget kalau gudeg tak selalu identik dengan Jogja. Ada juga gudeg solo yang rasanya selangit dan tak kalah dengan gudeg asli Jogja. Gudeg khas Solo menawarkan citarasa yang berbeda.

Rumah makan Adem Ayem merupakan salah satu tempat yang menawarkan gudeg khas Solo. Lokasinya cukup strategis, tepat berada di depan rumah dinas wali kota atau yang dikenal dengan sebutan Loji Gandrung.

“Tahun ini Adem Ayem tepat berusia 50 tahun,” kata pendirinya, Lies Rosmijati, Sabtu (23/2) seperti dirilis Tempo.co.

Gudeg Solo Adem Ayem memang cukup dikenal baik oleh warga Solo maupun wisatawan. Pelanggannya berasal dari berbagai kalangan. Beberapa presiden juga menjadi pelanggan rumah makan yang cukup legendaris itu.

Presiden RI kedua, Suharto merupakan salah satu tokoh yang kerap memesan gudeg dari Adem Ayem. Dia selalu memesan saat tengah berada di kediamannya yang ada di Solo, Ndalem Kalitan.

Baca juga: Gudeg Jogja Diaduk Dari Pagi Sampai Pagi

“Sekali pesan bisa sampai 40 kendil gudeg,” kata Lies.

Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid juga penikmat gudeg yang ditawarkan rumah makan itu.

“Gus Dur sering makan di sini jauh sebelum menjadi presiden,” katanya. Bahkan, mendiang Gus Dur memiliki meja favorit di rumah makan itu.

Sebagai warga asli Solo, Presiden Joko Widodo juga telah menjadi pelanggan lama di Adem Ayem. Saat menjabat sebagai Wali Kota Surakarta, Jokowi sering memesan gudeg Adem Ayem untuk menjamu tamu-tamunya.

“Sering juga memesan untuk dijadikan oleh-oleh,” katanya.

Meski memiliki sajian mirip gudeg Jogja, rasa yang ditawarkan Gudeg Solo memiliki perbedaan yang cukup mendasar.

“Gudeg Solo rasanya gurih, berbeda dengan Gudeg Yogya yang cenderung manis,” katanya. Rasa gurih cukup dominan melalui racikan santan kental yang diguyurkan.

Adem Ayem merupakan salah satu rumah makan yang menyajikan masakan gudeg khas Solo. Selama 50 tahun, rumah makan itu pernah mengalami pasang surut. Pernah memiliki cabang di beberapa kota namun akhirnya tinggal di Solo yang masih tetap bertahan.

Pendiri RM Adem Ayem, Lies Rosmijati menceritakan bahwa pada awalnya dia membuka rumah makan untuk mengisi waktu, pada 1969.

“Saat itu saya hanya ibu rumah tangga biasa, sedangkan suami saya pengusaha,” katanya.

Dia memilih untuk menjual masakan gudeg sebagai menu utama.

“Saya berasal dari Jogja, jadi sudah terbiasa memasak gudeg,” katanya. Hanya saja, masakannya itu ternyata kurang cocok dengan lidah masyarakat Solo.

“Banyak yang bilang gudegnya terlalu manis,” katanya.

Masyarakat Solo memang terbiasa memasak gudeg dengan rasa gurih, berbeda dengan gudeg Jogja yang cenderung manis. Lies lantas berkreasi untuk membuat Gudeg Solo. (Wiek/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*