
JoSS, JAKARTA – PT Waskita Karya (Persero) Tbk gencar menawarkan lima ruas tol yang dimilikinya untuk dijual kepada investor. Dari lima ruas tersebut, tiga di antaranya berada di ruas tol Trans Jawa.
BUMN tersebut bahkan telah menawarkan asetnya kepada investor asing, targetnya pada tahun ini, 18 ruas tol yang kini telah beroperasi akan dijual.
Direktur Keuangan Waskita Karya Haris Gunawan menyatakan pihaknya akan mendatangi langsung investor yang berpotensi beli di Dubai, Hong Kong, dan Prancis. Perusahaan juga menggunakan jasa konsultan dari Pricewaterhouse Coopers (PWC), Deloitte, dan Ernst & Young (EY).
“Kami sudah bicara pada tahun politik ini kami masih optimis, tapi mungkin konsepnya memang beda. Biasanya tunggu peminat, sekarang kami datangi investornya,” kata Haris, belum lama ini seperti dikutip dari CNNIndonesia.
Waskita Karya membebaskan investor memilih ruas tol yang akan dibeli. Artinya, manajemen tak menargetkan ruas tol mana saja yang harus terjual tahun ini.
Beberapa ruas tol yang ditawarkan oleh Waskita Karya, antara lain Tol Cimanggis-Cibitung, Tol Batang-Semarang, Tol Solo-Ngawi, Tol Ngawi-Kertosono, Tol Pasuruan-Probolinggo-Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi, Tol Kayu Agung-Palembang-Betung, Tol Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat, dan Tol Serpong-Cinere.
“Target kami lima ruas tol, kalau bisa lebih itu harapan kami,” imbuh Haris.
Baca juga: Dua Gerbang Tol Trans Jawa Perlu Dievaluasi, Kapolda Jateng: Tak Mampu Tampung Kendaraan
Selain divestasi, perusahaan berencana untuk menerbitkan obligasi sekitar Rp5 triliun. Namun, Haris belum bisa memastikan jenis obligasi (bond) yang akan dirilis, apakah perpetual bond atau global bond.
“Itu sangat tergantung dengan kondisi, tapi itu akan kami lakukan di semester I akhir,” tutur Haris.
Nantinya, perusahaan akan menggunakan sebagian raihan dana obligasi atau sekitar Rp2 triliun untuk pembiayaan kembali (refinancing). Sama seperti divestasi ruas tol yang diubah skemanya, perusahaan juga akan mengubah skema penawaran obligasi.
“Konsep yang akan kami tawarkan menggunakan obligasi tanpa bunga,” tutur Haris.
Dengan kata lain, obligasi yang dirilis Waskita Karya tak akan memberikan pembayaran bunga secara berkala, melainkan akan dibayar penuh pada saat yang ditentukan atau masa jatuh tempo.
Lalu, manajemen akan mengikuti langkah pemerintah yang mengenakan skema kupon mengambang atau floating. Hal ini sama seperti yang dilakukan oleh pemerintah dalam menerbitkan surat utang negara (SUN) beberapa waktu terakhir.
“Jadi floating rate plus spread. Jadi kami akan tentukan spread-nya nanti floating nya menggunakan capital market rate. Itu yang sedang kami tawarkan ke penjamin emisi efek,” jelas Haris.
Selain itu, perusahaan juga akan mencari perusahaan penjamin emisi efek yang memiliki peringkat AAA untuk menarik investor menanamkan investasi dengan membeli obligasi yang ditawarkan. (lna)

Leave a Reply