JoSS, SEMARANG – Tiga kecamatan di Kota Semarang, yaitu Tembalang, Mijen dan Ngaliyan, merupakan daerah rawan penyebaran demam berdarah. Karena itu warga di ketiga wilayah itu diminta untuk waspada.
Menurut catatan Dinas Kesehatan Kota Semarang, pada 2013 terdapat sebanyak 2.364 pasien demam berdarah, 2014 sebanyak 1.628 pasien, 2015 sebanyak 1.737 pasien, 2016 sebanyak 448 pasien, tahun 2017 sebanyak 299 pasien, dan hingga kemarin turun menjadi 50 pasien.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang dr. Widoyono menambahkan jika musim hujan, banyak terdapat genangan air yang menjadi sarang nyamuk. Kondisi ini memicu berkembangnya penyakit demamberdarah yang ditularkan oleh nyamuk Aides Aigepty.
”Minggu kemarin sudah ada 4 warga yang kena DB. Lalu minggu ini ada 14 warga yang juga menderita DB. Jadi total ada 18 laporan masuk ke kami,” tuturnya, kepada JoSS,co.id.
Dia menambahkan pasien dinyatakan positif DB ada beberapa indikator di antaranya apabila panas lebih dari 7 hari, trombosit menurun dan lainnya. Untuk menekan jumlah penderita DB di Kota Semarang, Dinkes berupaya untuk meningkatkan kewaspadaan di masyarakat.
“Kami juga menggalakkan apel Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di sejumlah kecamatan setiap Jumat. Serta pemeriksaan jentik-jentik nyamuk di rumah-rumah dan sekolah,” ujarnya.
Baca juga: Dinkes Sragen Umumkan KLB DB
Sementara itu, sebanyak 18 warga Kota Semarang terjangkit Demam Berdarah (DB). Sebanyak 16 di antaranya saat ini dirawat di RSUD KRMT Wongsonegoro.
Menurut Humas RSUD KRMT Wongsonegoro Reza Sukmana mengatakan pasien yang terjangkit penyakit Demam Berdarah (DB) di RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang, sejak awal Januari 2019 ada 16 orang yang terjangkit penyakit DBD, kemudian pada tanggal 14 Januari 2019 menurun menjadi 8 orang.
“Hingga sekarang, masih ada 6 pasien DBD yang mondok di RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang,” ujarnya.
Dijelaskan, dari jumlah tersebut, mereka dirawat tersebar di kelas lll dan kelas ll. Dari 6 pasien itu, ada 4 pasien berusia di bawah 14 tahun, serta 2 pasien berusia dewasa.
Berdasarkan penuturan salah satu ibu pasien, Siti Solekha, sebelumnya anaknya pulang pulang sekolah kondisi badan Lutfia panas, pusing dan perut mual disertai dengan tangan kanan terdapat bintik-bintik merah. Dia baru tau anaknya terkena DB saat [eriksa ke rumah sakit.
“Ketika sudah diberi obat, kondisi badan Lutfia tidak stabil, demamnya naik turun. Kemudian dibawa ke puskesmas, dari puskesmas dirujuk ke RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang,” tukasnya.
Ia mengakui, rumahnya selalu dibersihkan. Selain itu juga tidak genangan air atau bahan-bahan bekas yang dapat menjadi sarang nyamuk di sekitar rumahnya. (gus/lna)

Leave a Reply