
JoSS, KARANGANYAR, SOLO – Warga masyarakat diajak mewaspadai musim penghujan agar risiko ikutan yang tidak diharapkan seperti banjir dan tanah longsor bisa diminimalisasikan. Anggota Komisi IV DPR RI masalah Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Kelautan, Perikanan, Pangan, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyatakan musim hujan merupakan bagian dari siklus iklim yang wajar, bahkan sesuatu yang kita syukuri karena ketersediaan air untuk pertanian, pengairan, air bersih dan kegiatan lainnya menjadi terdukung.
“Hujan memang suatu yang alamiah. Tapi karena pemanfaatan lahan di beberapa wilayah sudah melebih daya dukung yang bisa diberikan, ada risiko-risiko yang patut diwaspadai. Karena itu saya mengajak warga masyarakat untuk menyiapkan langkah-langkah antisipasi yang diperlukan jika terjadi sesuatu yang di luar perkiraan,”kata Agustina Wilujeng, Jumat (14/12).
Menurut politisi PDIP ini, kita memang harus tetap tenang dan arif mensikapi perubahan iklim yang ekstrim sekalipun. Namun diperlukan sikap waspada agar secara psikologis masyarakat menjadi kuat dan tangguh. Dia mencontohkan para petani padi yang memanfaatkan musim hujan untuk menyemai benih, tentu harus waspada jangan sampai genangan air di sawahnya melebihi yang dibutuhkan. “Kalau sistem irigasinya bagus penanganannya lebih mudah. Tapi untuk lahan yang belum memiliki irigasi teknis, tentu perlu usaha ekstra yang biasanya didasarkan pada kearifan lokal sebagai solusinya,”katanya.
Seperti diketahui, beberapa daerah mengalami bencana tanah longsor dan banjir pada akhir November sampai Desember ini. Beberapa bangunan infrastruktur seperti jembatan dan jalan juga mengalami kerusakan. Akibat bencana banjir dan tanah longsor, warga tidak saja mengalami kerugian material seperti kerusakan rumah, kerusakan tanaman dan kematian ternak, tapi juga ada korban jiwa.
Baca juga: Penggunaan Frekuensi Tanpa Izin Oleh Nelayan Bakal Ditertibkan
“Untuk mengurangi risiko dan juga untuk mengatasi wilayah yang terjadi bencana, kami meminta pemerintah daerah intensif melakukan pemantauan. Aparat khususnya yang bertugas untuk penanggulangan kita harapkan meningkatkan kesiagaannya untuk membantu masyarakat yang terkena musibah,”kata wakil rakyat yang mewakili Kabupaten Sragen, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Wonogiri ini.

Agustina menyitir pernyataan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang dinyatakan menjelang musim penghujan, tepatnya pada Oktober lalu. Awal musim hujan, menurut BMKG, berbeda dari satu daerah dengan daerah lainnya. Sementara untuk puncak musim hujan 2018/2019 diperkirakan terjadi pada Januari-Februari 2019.
Kepala BMKG, Dwikorita, menjelaskan Indonesia akan mengalami Sifat Hujan Atas Normal atau lebih tinggi dari rata-ratanya. Berdasarkan pengamatan, terdapat aktivitas MJO (Madden Jullian Oscillation) atau massa udara basah dan fenomena gelombang atmosfer lainnya (Rossby dan Kelvin Wave) yang cukup signifikan terjadi di wilayah Indonesia.
Akibat dari massa udara basah tersebut, akan memberi pengaruh yang signifikansi pada peningkatan curah hujan di beberapa wilayah di Indonesia. Kondisi tersebut diperkuat dengan adanya pelemahan pusat tekanan tinggi di wilayah Australia yang mengakibatkan massa udara di wilayah Indonesia khususnya bagian selatan ekuator relatif menjadi lebih lembab.
Karena itu BMKG pun mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang di sekitar wilayah Indonesia. Bagi masyarakat pesisir dan para nelayan diharapkan mewaspadai potensi gelombang tinggi. Untuk menghadapi kondisi puncak musim hujan, masyarakat perlu mewaspadai wilayah yang rentan terhadap bencana yang ditimbulkan oleh curah hujan yang tinggi seperti banjir, genangan, tanah longsor, angin kencang dan juga puting beliung. (wid)

Leave a Reply