Meski Menjanjikan Usaha Kerajinan Tenun Tradisional Di Batang Kurang Diminati

tenun
Tenun Tradisional | Foto: hardiyantimurdaninfo.blogspot.com

JoSS, BATANG – Pelaku usaha kerajinan produk hasil alat tenun bukan mesin (ATBM) mengeluhkan minimnya tenaga kerja yang mau menjadi generasi penerus melanjutkan usaha tersebut meski hasilnya sangat menjanjikan.

Aidin (40) Perajin produk kerajinan hasil ATBM Desa Cepagan Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ini mengatakan hasil produksinya yang berupa syal, pashmina dan kerudung,  mampu menembus pasar luar Jawa seperti Bali dan Sulawesi.

Dia menambahkan para perajin di desa ini mampu memproduksi sekitar 2.000 potong hasil kerajinan ATBM yang selanjutnya dikirim ke sejumlah daerah baik di Pulau Jawa, Bali dan Sulawesi.

“Para perajin ATBM ini mampu memproduksi 2.000 potong ATBM per minggu. Adapun pemasarannya, selain untuk memenuhi permintaan pasar di Pulau Jawa juga dipasarkan ke Bali dan Sulawesi,” katanya, Kamis (8/11) seperti dikutip dari Antara.

Kendati demikian, kata dia, prospek usaha yang bisa dikatakan cukup menjanjikan ini kurang diminati oleh masyarakat terutama usia remaja karena mereka memilih bekerja di Jakarta maupun pada perusahaan swasta.

“Kendala yang kami hadapi dalam usaha ATBM ini bukan faktor bahan baku namun tenaga kerja. Usaha ATBM ini tidak bergantung pada bahan impor sehingga cukup menjanjikan,” katanya.

Baca juga: Ke Jepang Ganjar Pastikan PLTU Ramah Lingkungan

Menurut dia, harga kerajinan ATBM relatif cukup terjangkau dibeli oleh masyarakat sebagai bingkisan atau oleh-oleh.

“Kita mematok harga kerajinan ATBM hanya Rp15 ribu sampai Rp30 ribu tergantung jenisnya. Adapun omzet yang kami peroleh mampu mencapai Rp50 juta per bulan,” katanya.

Bupati Batang Wihaji mengatakan wilayah Desa Cepagan, Kecamatan Warungasem merupakan sentral indutri kreatif alat tenun bukan mesin yang dilakukan secara tradisional dan sudah berlangsung puluhan tahun.

“Di wilayah desa ini, hampir semua masyarakatnya memproduksi sal, pasmina, dan kerudung. Oleh karena, kami menobatkan desa ini sebagai `Kampung ATBM`,” kata Wihaji saat mengunjungi sentra produksi ATBM di Desa Cepagan, Kamis.

Ia mengapresiasi pada warga setempat yang tetap berkarya memproduksi ATBM di tengah persaingan bisnis yang ketat dengan menggunakan alat teknologi.

“Ini ekonomi kreatif yang luar biasa, dalam produksinya dilakukan secara tradisional dan tetap bertahan di tengah modernisasi peralatan, Oleh karena, kami mengapresiasi masyarakat yang telah `nguri-nguri` (melestarikan) peninggalan nenek moyang,” katanya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*