Ribuan Korban Gempa di Palu dan Donggala Masih Tertimbun Reruntuhan Bangunan

Donggala
Kondisi Palu-Donggala pasca gempa dan tsunami | Foto : goggle

JoSS, JAKARTA –  Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) mendata jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi dan tsunami di Donggala-Palu Sulawesi Tengah sebanyak 1.203 orang.

Vice President ACT Insan Nurrohman mengatakan bahwa ACT juga berkoordinasi dengan pihak terkait untuk pendataan korban gempa dan tsunami.

Dia merinci, data korban yang didapat dari tim ACT di lapangan, yaitu di Kelurahan Petobo 700 orang, RS Wirabuana 10 orang, RS Undata 201 orang, Masjid Raya 50 orang, RS Bhayangkara 161 orang, Kecamatan Tawaeli 35 orang, Kelurahan Kayumalue Pajeko dua orang, Kelurahan Kawatuna lima orang, Pos Pol PP tujuh orang, RS Madani 32 orang.

“Korban meninggal 1.203 yang tersebar di beberapa titik, jumlah korban terbesar terdapat di Kelurahan Petobo yang rata oleh terjangan tsunami,” katanya, seperti dikutip dari Antara.

Sementara itu untuk jumlah orang hilang sebanyak 46 orang, termasuk 61 warga negara asing. ACT juga mencatat korban luka berat sebanyak 540 orang yang tersebar di beberapa titik, yaitu RS Woodward Palu sebanyak 28 orang, RS Budi Agung Palu 114 orang, RS Samaritan Palu 54 orang, RS Undata Mamboro Palu 160 orang, dan RS Wirabuana 184 orang.

Jumlah pengungsi di Kota Palu hingga Minggu (30/9) pukul 20.00 WIB diperkirakan sebanyak 16.732 jiwa yang tersebar di 123 titik pengungsian dengan wilayah terdampak Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong.

“Komunikasi lumpuh akibat listrik padam menyebabkan pendataan dan pelaporan dampak gempa dan tsunami di Kota Palu dan Donggala tidak dapat dilakukan dengan cepat,” kata Insan.

Baca juga : Korban Gempa Palu 832 Jiwa BNPB Siapkan Dana Rp560 Miliar

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Palu Fresly Tampubolon menjelaskan diperkirakan masih terdapat ribuan korban gempa bumi di Palu, Donggala dan Sigi Sulawesi Tengah tertimbun tanah bersama bangunan di dua lokasi.

“Kami belum identifikasi di Perumnas Balaroa dan Kelurahan Petobo karena lokasinya sangat parah,” katanya.

Dua daerah tersebut yakni Balaroa dan Petobo merupakan pusat kerusakan paling dahsyat karena rumah dan fasilitas publik di titik itu tertimbun tanah bak ditelan bumi.

Menurut sejumlah saksi beberapa detik setelah gempa 7,4 SR mengguncang Palu, wilayah kelurahan itu terlihat semburan air yang cukup tinggi lalu tiba tiba permukaan tanah menurun sehingga ikut menarik seluruh benda di atasnya.

Bahkan beberapa bangunan seperti masjid bergeser jauh sekitar 50 meter dari posisi semula.

“Istri dan anak-anak saya tidak bisa diselamatkan. Saya perkirakan mereka terperangkap dalam rumah lalu digulung tanah,” kata Husnan, salah seorang keluarga korban.

Saat kejadian, Husnan sedang berada di kantor, sementara istri dan anak-anaknya ada di rumah.

Kondisi yang sama juga terjadi di Kelurahan Kawatuna. Namun di lokasi ini disertai air sehingga belum memungkinkan disentuh oleh Tim Penanggulangan Bencana.

Dia menjelaskan hingga hari ketiga pascagempa, jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 1.203 orang. Sementara titik pengungsian mencapai 324 lokasi yang diperkirakan mencapai 18 ribu orang. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*