Pertempuran 5 Hari, Bukti Sejarah Semangat Juang Warga Semarang

pertempuran
Drama kolosal di Tugu Muda yang menggambarkan dahsyatnya pertempuran 5 hari di Semarang, 14 Oktober - 19 Oktober 1949. | Foto: joy/joss.co.id

JoSS, SEMARANG – Kawasan Tugu Muda gelap. Tiba-tiba terdengar pekikan pertanda serangan. Puluhan pemuda berlarian sembari menenteng bambu runcing. Mereka merangsek maju, tak gentar, melihat persenjataan pasukan Jepang yang ada di depannya.

Pertempuran tak imbang pun pecah. Pemuda Semarang bergelimangan diterjang peluru tentara Jepang. Bukannya takut, para pemuda yang tergabung dalam TKR dan sejumlah laskar pejuang semakin nekat menghunuskan bambu runcing ke tengah pasukan penjajah. Dentuman suara meriam menambah keseraman suasana perang.

Hari itu, 14 Oktober 1949, hegemoni Jepang atas wilayah Semarang runtuh. Hingga 19 Oktober 1949, perang terus berkecamuk. Tak hanya di pusat kota seperti kawasan Tugu Muda dan Simpanglima, pertempuran melebar ke wilayah pinggir Semarang hingga Demak.

Suasana haru biru penuh perjuangan dan membanggakan itu lah yang diangkat Pemkot Semarang di peringatan Pertempuran 5 Hari di Semarang, Minggu (14/10) malam. Sebuah drama teatrikal yang menggambarkan semangat tanpa takut, tiada lelah dari pejuang Semarang dalam merebut kemerdekaan.

Kalah senjata bukan alasan. Merdeka atau Mati, demikian yang tertanam di dada ribuan pasukan rakyat Semarang saat memporakporandakan basis pertahanan Jepang di kawasan Tugu Muda.

“Kita harus selalu ingat bagaimana beratnya perjuangan para pejuang kita dahulu dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Agar kita dan generasi mendatang dapat lebih menghargai hasil dari kemerdekaan yang kita rasakan saat ini,” beber Walikota Semarang Hendrar Prihadi.

Baca juga: Masa Tanggap Darurat di Sulteng Diperpanjang Hingga 25 Oktober
pertempuran
Air mancur menari Tugu Muda yang diresmikan bersamaan peringatan Pertempuran 5 Hari di Semarang, Minggu (14/10) malam. | Foto: joy/joss.co.id

Dalam catatan sejarah disebutkan pemicu kemarahan tentara dan pemuda Semarang adalah keenganan tentara Jepang menyerahkan senjata paska kekalahan dalam Perang Dunia II dengan Sekutu.

Hal lain yang membuat emosi warga Semarang memuncak adalah tewasnya dr Kariadi di tangan tentara Jepang secara mengenaskan. Kala itu dr Kariadi bermaksud mengecek reservoir air di Siranda yang kabarnya telah ditaburi racun oleh tentara Jepang. Padahal reservoir itu adalah sumber air bagi warga Semarang.

Keberanian dr Kariadi tersebut juga di kolosalkan dalam teatrikal peringatan Pertempuran 5 Hari di Semarang. Selain drama perjuangan, peringatan juga ditandai dengan upacara dan mengheningkan cipta.

Upacara dipimpin langsung Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen Wuryanto. Hadir juga Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono dan pejabat Forkopimda Kota Semarang.

“Acara peringatan dilangsungkan di Tugu Muda karena memang dulu di sini menjadi sentralnya pertempuran 5 hari di Semarang. Dan di sini dibangun pula monumen Tugu Muda untuk menjadi pengingat perjuangan pendahulu kita,” ujar Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi.

Dalam kesempatan tersebut diresmikan pula air mancur menari di sekitar monumen Tugu Muda. Dukungan tata lampu dengan teknik pencahayaan yang dinamis disajikan, menambah daya tarik Tugu Muda pada malam hari.

”Ini adalah air mancur menari kedua yang setelah di Taman Indonesia Kaya. Pada Desember 2018 nanti juga akan dioperasikan air mancur menari di Jembatan Banjir Kanal Barat,” tukasnya. (joy/lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*