Meski Produksi Turun Akibat Musim Kemarau Boyolali Surplus Beras Hingga 25%

surplus beras
Ilustrasi beras | Foto: beritasatu

JoSS, BOYOLALI – Hasil produksi beras pada musim panen tahun ini di Kabupaten Boyolali mencapai 32.300 ton atau surplus 25% dari kebutuhan daerah. Meskipun di sejumlah tempat mengalami kekeringan dan gagal panen.

Kepala Bidang Ketersedian dan Kerawanan Pangan, DKP Boyolali, Parwoto mengatakan jumlah produksi padi tahun ini tercatat menurun jika dibandingkan dengan 2017 dengan surplus mendapai 50% dari kebutuhan.

Parwoto menambahkan pada 2017 produktivitas beras mencapai 300.383 ton, tetapi ketersediaan pangan mencapai 166.561 ton setara beras atau mengalami surplus mencapai 81.845 ton atau sekitar 50%.

“Surplus pangan pada 2017 mencapai 50%, sedangkan tahun ini sekitar 25% karena produktivitasnya juga menurun akibat pada musim kemarau ini banyak tanaman padi gagal panen,” katanya seperti dikutip dari Antara, Selasa (16/10).

Ia menjelaskan menurunnya produktivitas beras, antara lain, disebabkan adanya kemarau panjang sehingga tidak ada hujan, hal ini menyebabkan sejumlah wilayah yang menjadi lumbung padi di Boyolali gagal panen.

Baca juga: Bupati Purbalingga Nonaktif Didakwa Terima Suap Ratusan Juta

Lebih lanjut dia menjelaskan sedikitnya ada lima kecamatan di wilayah ini yang mengalami puso, yakni Andong, Nogosari, Klego, Simo, dan Karanggede.

“Penururan produksi beras hingga saat ini mencapai sekitar 25% dengan lahan sawah seluas sekitar 22.830,82 hektar. Boyolali rata-rata dapat surplus beras sekitar 50%,” tuturnya.

Dia menambahkan, turunnya surplus beras ini, selain dampak musim kekeringan juga dipengaruhi beberapa faktor yang sangat mempengaruhi hasil produksi padi di wilayah ini.

Menurut dia, beberapa faktor yang menyebabkan turunnya produktivitas beras, antara lain, alih fungsi lahan pertanian, misalnya, untuk kawasan perumahan dan pembangunan nasional lainnya, seperti jalan tol.

Kendati demikian, lanjutnya Boyolali juga memiliki komoditas pangan lain, seperti jagung dan ubi kayu sebagai penyangga pangan. Komoditas jagung juga surplus 117.956 ton dari total produksi sebanyak 162.361 ton dan ubi kayu surplus 19.011 ton dari total produksi 70.239 ton.

Konsumsi jagung dan ubi kayu untuk rumah tangga, kata dia, biasanya dilakukan masyarakat di wilayah pedesaan Boyolali yang masih menjadikan komoditas pangan ini  sebagai menu pokok selain beras. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*