
JoSS, JAKARTA – Penyakit osteoporosis kerap tidak disadari, karena seringkali muncul tanpa gejala. Ini seperti diungkapkan oleh Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga, Kementerian Kesehatan RI, Kartini Rustandi, M.Kes, yang menyebut osteoporosis sebagai The Silent Epidemic Disease seperti ditulis Viva.co.id.
“Ini karena osteoporosis menyerang secara diam-diam tanpa adanya tanda-tanda khusus, hingga seseorang mengalami patah tulang,” ungkap Kartini di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak Borobudur, Jakarta, Jumat, (19/10).
Kartini memaparkan, osteoporosis secara negatif memengaruhi kondisi bentuk tubuh. Osteoporosis, lanjut dia, juga sangat berbahaya dan tidak bisa disembuhkan. “Oleh karena itu sangat penting untuk mencegah osteoporosis sejak dini.”
Sementara itu, Pengurus Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROSI), dr. Ade Tobing, SpKO, menjelaskan, osteoporosis bisa dicegah dengan cara yang sederhana. Beberapa di antaranya dengan menerapkan pola makan sehat dan aktif beraktivitas fisik atau berolahraga.
Osteoporosis atau pengeroposan tulang, merupakan suatu kondisi saat kualitas kepadatan tulang mulai menurun. Kondisi ini kemudian menyebabkan tulang menjadi keropos, rapuh, dan rentan mengalami keretakan.
Umumnya, osteoporisis akan dapat diketahui setelah ditemukan retak pada tulang. Namun dari sebagian kondisi, gejala yang bisa dirasakan antara lain, sakit punggung, menurunnya tinggi badan, postur tubuh membungkuk, dan lebih sering mengalami cedera atau keretakan tulang.
Baca juga: Alami Gangguan Mistis, Ruben Onsu Bingung
Nah, bagi Anda yang saat ini tengah mengalami gangguan osteoporosis, kami sarankan untuk mengobati osteoporosis Anda dengan cara alami, yaitu dengan memanfaatkan kumis kucing.
Ramuan kumis kucing dipercaya berkhasiat untuk mengobati osteoporosis.
Selama ini, osteoporosis seringkali dianggap hanya menyerang orang lanjut usia atau lansia. Padahal menurut hasil analisis data risiko osteoporosis yang dilakukan di 16 wilayah di Indonesia oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Gizi Departemen Kesehatan RI pada 2005, menemukan bahwa osteoporosis kini juga dialami mereka yang usianya lebih muda.
Analisis tersebut menunjukkan prevalensi osteopenia (osteoporosis dini) mencapai 41,7 persen dan prevalensi osteoporosis mencapai 10,3 persen. Hal ini berarti 2 dari 5 penduduk Indonesia memiliki risiko terkena osteoporosis, yang 41,2 persen dari keseluruhan sampel berusia kurang dari 55 tahun terdeteksi menderita osteopenia. Tapi bagaimana dengan osteoporosis pada anak?
“Kalau anak yang saya temukan memang belum ada, yang ada itu remaja usia 18 tahun dan 21 tahun, sifatnya karena dia mau menguruskan berat badan jadi mau mengecilkan tubuh,” ungkap dr. Ade Tobing, SpKO, pengurus Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Perosi), saat peringatan Hari Osteoporosis, di Ruang Terpadu Ramah Anak Borobudur, Jakarta, Jumat (19/10) .
Dalam kasus itu, Ade menjelaskan bahwa diet yang dijalani berpengaruh pada perubahan drastis kondisi tubuh, hingga penurunan hormon estrogen. Setelah cepat ditangani, keduanya mampu mengembalikan hormon estrogennya, dan memperbaiki osteoporosis yang dialami. (wiek/lna)

Leave a Reply